Pantai Klapa Rapet (Clara), BandarLampung, 19 Mei 2010
Ombak memecah kesunyian, membuatku menghela nafas dalam diam. Malam kian menunjukkan kekelamannya. Membuat angin merunduk, mulai bermain-main dengan dedaunan kelapa yang berbunyi nyaring ditelingaku. Tatkala kutatap langit hitam, bintang muncul malu-malu, membuat sinar bulan tak ingin kalah menerangi malam.
Tubuhku kugerakkan setengah sadar menuju garis pantai. Air menari-nari dikakiku. Namun aku tak ingin bergeming. Aku ingin diam. Sesaat saja. Kuedarkan pandangan pada titik terjauh diujung laut sana, tampak lampu mercu suar bagai titik terang yang timbul tenggelam di antara derasnya ombak yang beradu. Tak kuhiraukan angin deras menerpa tubuhku yang hanya berlapis sweeter tipis. Gaunku berkibar mengikuti arah angin. Rambutku melayang-layang seenaknya. Aku tak perduli.
Letih. Kududukkan diri, masih ditempat yang sama. Air laut makin senang mempermainkan kaki dan tubuh ini. Dalam diam, bulir-bulir airmata yang sejak aku datang ke pantai ini tertahan di sudut mata, mulai turun tak beraturan. Kubiarkan mata ini panas menahan kepedihan yang terus menerus menusuk ke jantungku. Aku patah hati, disaat hati yang hanya satu ini, kuberikan pada seseorang. Dan celakanya, hati yang sudah aku berikan, ia buang begitu saja, tanpa pernah ia berpikir untuk mengembalikannya padaku. Aku kehilangan. Kehilangan hati itu. Hati yang berisi cinta sejati padanya.
Satu per satu slide kisah cinta itu berputar dalam benakku...
”..Dan ketika cinta tlah pergi darimu, kamu hanya bisa memandangnya pergi dari tempatmu berdiri sekarang..”
***
Pertemuan yang tanpa disengaja ataupun direncanakan sebelumnya. Pandangan saling bertemu sesaat, degup jantung mulai bernyanyi merdu. Lirikan mata yang berbicara panjang lebar, menemukan arti pertemuan itu. Aku tak kuasa menolak detak jantung yang seolah mengalirkan darah hangat ke pipiku hingga menimbulkan semburat merah. Dan ketika sunggingan senyum tulus kusampaikan, tak tahu siapa yang memulai, mengalirlah perbincangan hangat yang seolah tak ingin dihentikan. Ryan, nama lelaki manis berkacamata minus itu. Rahang kuat dan alis menyatu diatas hidung mancungnya membuat mata ini enggan tuk berpaling.
Jika ada orang yang percaya akan cinta pada pandangan pertama, maka akulah yang pertama kali membusungkan dada mengiyakan. Pertemuan pertama itu berlanjut hingga pertemuan kedua yang disengaja, ketiga yang diharapkan, dan seterusnya.
***
Tanggal tepatnya jadian aku sudah lupa. Tepatnya, ingin kulupakan..Yang jelas, jika seseorang bertanya kepadaku, kapan kebahagiaan paling indah yang pernah kurasakan, maka akan kujawab dengan mata berbinar, ”Saat ini aku sangat bahagia!!!”. Hari- hari selanjutnya, kulalui selalu bersamanya. Tiada hari tanpa kabar darinya, sms mesranya, dan seabrek kegiatan tentangnya yang selalu ia ’laporkan’ padaku. Sebagai salah satu pegawai disebuah perusahaan distributor, ia selalu mempunyai beragam cerita setiap harinya selama berkutat dilapangan. Saat itu, aku hanyalah seorang mahasiswi disalah satu perguruan tinggi swasta yang sibuk mengejar nilai A agar tidak mengambil SP yang makin membuat pusing kepala. Hari-hari yang semakin membuatku berarti, karena aku merasa ia selalu ada disampingku, dan akan terus selalu ada disisiku.
Pun saat dia berhenti dari pekerjaannya karena suatu alasan dan menganggur selama beberapa waktu. Kesetiaan yang terpatri dalam diriku kubuktikan dengan tetap memberikannya semangat. Inilah pengorbanan terberatku yang takkan pernah aku lupakan seumur hidupku. Ia tak pernah memintaku untuk selalu bersabar menunggunya memulai hidup dari nol kembali, tapi cinta tulus darikulah yang menciptakan rasa sabar itu sendiri.
Jika ada yang bilang cinta itu buta, maka akulah korbannya. Aku selalu memantau perkembangan lamaran pekerjaan Ryan yang ia kirim kemana-mana. Akupun turut andil dalam memberikan saran ataupun guntingan lowongan pekerjaan dikoran yang kebetulan aku lihat. Sampai suatu hari, ia dipanggil oleh sebuah perusahaan yang bergerak dibidang penjualan. Aku dengan setia ikut mengantarnya mencari alamat perusahaan tersebut, tanpa sedikitpun aku mengeluh.
Ryan diterima sebagai Surveyor Location, ditempatkan di Prabumulih, dan ia pulang setiap akhir pekan. Long Distance, yang membuat rasa rindu sulit untuk dibendung. Namun kujalani hubungan jarak jauh ini dengan keyakinan dan kesetiaan penuh padanya. Prabumulih-Palembang toh tak terlalu jauh, walaupun hanya seminggu sekali rasa kangen itu terobati, batinku. Jika rsa rindu menyergap, kubuka album foto kami. Foto studio, foto saat ultahku bersamanya, foto kami di bioskop sebelum masuk hall, dan bla bla bla.
Hari berganti hari, tak terasa hubungan ini makin erat. Ternyata jarak jauh tak mempengaruhi hubungan kami. Itu yang kuyakini. Akhir pekan setiap ia pulang ke Palembang, kami menyempatkan waktu untuk sekedar refreshing bersama, nonton film, keliling kota, ataupun berbelanja. Hari-hariku penuh dengan harapan untuknya, terlebih saat ia melingkarkan cincin tepat pada tanggal 1 januari, tahun baru.
Banyak yang berkomentar tentang singkatnya hubungan ini tetapi sudah diikat dengan sebuah cincin. Namun saat itu, aku percaya, semua hal yang instan tidak akan berakhir dengan instan pula. Semua bergantung pada hati masing-masing. Lagi-lagi aku tetap tak bergeming. Kubiarkan ia membawaku kedalam cintanya yang menurutku begitu dalam. Andai aku tahu bahwa prediksiku ternyata salah besar...
Suatu saat diawal bulan Maret, kami sedang berbelanja di salah satu mall di pusat kota Palembang. Ia disapa oleh seorang wanita, pramuniaga yang menjaga stand baju. Ternyata mereka sudah kenal lama, jauh sebelum aku mengenal Ryan. Aku tidak menaruh curiga sedikitpun atas pertemuan mereka tersebut. Yang aku tahu, Ryan adalah kekasih yang setia. Titik.
Sehari dua hari, tidak ada yang berubah. Biasa-biasa saja. Sms-sms kekasihku masih intens kuterima. Cerita-ceritanya di telefon masih bisa membuatku tertawa renyah, seperti biasanya. Kasih sayangnya masih bisa kurasakan hingga masuk kedalam pori-pori tubuhku.
Namun, diakhir pekan saat ia pulang ke Palembang, aku meminjam handphone-nya, keningku mengernyit. Sedikitnya ada sekian puluh sms dari A, wanita pramuniaga yang waktu itu menyapa Ryan di Mall. Sms yang saling berbalas, hingga tengah malam. Itu bisa kulihat dari rincian jam di sms tersebut. Benakku mulai bertanya, ada apa ini?. Tak pernah kulihat Ryan ber-sms ria dengan wanita selain diriku, selama ini. Saat itu, aku hanya bisa menyimpan sejuta tanya dalam hati. Cinta ini tlah benar-benar membutakan mataku.
Diminggu berikutnya, Ryan seperti menjauh. Sms maupun telefonnya tidak se-intens dulu. Apa ia bosan dengan hubungan jarak jauh?. Aku tak begitu menyadari, hingga aku teringat tentang sms-sms ’aneh’ itu. Aku bimbang, apa yang harus kuperbuat. Aku takut Ryan berubah, tapi aku juga takut ia akan marah jika kutanyakan perihal sms itu. Aku paham sifatnya yang keras. Aku memilih diam, dan melewati hari-hari berikutnya dengan siksaan pertanyaan manakala Ryan makin menjauh dan jarang mengirimkan kabar.
Akhir Maret, pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan akhirnya menemukan jawabannya. Jawaban yang membuatku menghentikan nafas sesaat. Ia menemuiku, dan mengatakan ingin mengakhiri hubungan. Ya, ia memilih berpisah denganku. Dengan wanita yang telah diberinya cincin tanda cinta. Dengan wanita yang tidak pernah sedikitpun berpaling darinya. Kata-kata perpisahan yang keluar dari mulutnya seolah tanpa beban. Datar, tanpa ekspresi. Aku yang saat itu masih tidak percaya dengan apa yang kulihat dan kudengar, memilih diam. Sekuat tenaga kutahan tangis yang sudah bergerombol disudut mata. Kuhela nafas diam-diam, menunggu kata demi kata yang akan kudengar selanjutnya. Tak ada ekspresi berarti yang kutunjukkan, selain diam seribu bahasa. Aku tak sanggup berkata-kata.
Hanya tanganku yang bergerak perlahan, melepaskan cincin yang pernah ia kenakan dulu. Kubuka telapak tangannya, dan kuletakkan cincin itu dalam genggamannya. Perlahan tapi pasti, tubuhku beranjak meninggalkan sosoknya. Aku takut tak kuasa menahan tangis ini lebih lama lagi. Hingga kuputuskan pergi tanpa berkata-kata.
***
Kutumpahkan semua airmata yang ada dibantal kamarku. Aku tak sanggup, aku tak sanggup, batinku pedih. Kenapa Ryan tega meninggalkan semua yang telah kami ikrarkan diwaktu ia menyatakan cintanya?. Begitu cepat cinta menghilang dari hatinya. Benarkah cinta yang datang secara instan, akan menghilang secara instan pula?. Inikah jawaban atas proyek cintaku?. Pertanyaan demi pertanyaan bergelayut tak karuan dalam hati ini. Ingin aku menjerit sekuat-kuatnya.
Alat pengukur tensi darah dokter takkan bisa mendeteksi tekanan darahku yang timbul akibat rasa pedih ini. Badan Metereologi dan Geofisika pun takkan mampu mengukur gempa yang ada dalam jantungku ini. Aku terhempas kedasar bumi, dengan beribu penyesalan.
Asma Nadia, sang penulis paling dikagumi se-Indonesia, pernah berkata dalam salah satu seminarnya di Palembang, jika cinta pergi meninggalkanmu, jangan pernah kau berkata ’aku tak pantas untuknya’, tapi katakanlah, ’dia tak pantas untukku’. Mbak Asma juga berkata, jika sakit hati terus menerus melanda hati kita, tanamkanlah kalimat ini, ’gue emang terlalu baik buat elo.’
Tapi tetap saja, teori tak segampang praktek. Aku tetap saja sakit hati. Dan sakit itu bertambah manakala kulihat langsung dua sosok badan yang sangat kukenal, sedang berjalan berdua sambil bergandengan tangan di Mall, dua minggu kemudian. Ryan bersama si A, pramuniaga stand baju itu. Jika Anda membayangkan sebuah film perang dengan peluru dan bom dimana-mana, maka itulah kondisi hatiku saat itu. Hancur berkeping kelantai, diinjak pula. Ia tinggalkan wanita yang selalu mendampinginya setiap waktu, bahkan saat ia menjadi seorang pengangguran.
Benarkah, Long Distance Relationship itu tidak akan pernah menghasilkan happy ending?. Benarkah, setelah ia menjadi seorang karyawan tetap dengan jabatan ’lumayan’ dikantornya, ia memilih mengakhiri hubungan denganku, mahasiswi yang belum jelas masa depannya?. Jawabannya tidak pernah aku dapatkan hingga saat ini.
Butuh waktu berbulan-bulan kemudian untuk mengembalikan semuanya ke titik awal. Memang benar cinta itu instan, namun pendar cahayanya tlah terpaut sangat erat didalam hatiku, hingga aku sendiripun tak bisa memadamkannya.
***
Aku ingin menyendiri.
Kupilih berkelana ke Lampung selama beberapa hari. Menggunakan kereta bisnis, perjalanan kunikmati dalam kebimbangan yang luar biasa. Tak kuperdulikan dinginnya angin malam yang sibuk menghujat tubuh ini. Pantai. Laut. Aku selalu tenang jika duduk diam di atas pasir pantai ditemani ombak yang saling berkejaran. Dipantai berpasir putih bersih yang sepi itu, kuluapkan segala kesedihan yang ada...
***
Palembang, Rumah Dinas Pejabat X, 08 Juli 2011
”Bagaimana keseharian Anda sekarang ini, setelah perceraian dengan Bapak terkuak ke media?”, wawancaraku dengan istri seorang wakil rakyat yang digugat cerai.
”Saya masih menjalankan aktivitas seperti biasa, menjaga dan mengurus anak-anak, sesuai dengan tugas seorang ibu. Bagi saya, perceraian ini tidak mempengaruhi keseharian saya.”
”Apa yang ingin Anda sampaikan jika Anda bisa berbicara langsung dengan Bapak sekarang ini?”
”Saya hanya ingin menyampaikan, ingatlah anak-anak. Yang bercerai itu pernikahan kita, bukan hubungan dengan anak-anak. Mereka hanyalah korban dari keputusan ini. Yang terpenting, bagaimana anak-anak bisa melewati hari-hari selanjutnya tanpa sedikitpun berkurang kebanggaannya terhadap kita, orangtuanya. Tugas kita adalah mengurusnya hingga ia mampu berdiri diatas kaki mereka sendiri.”
Kumatikan tape recorder yang merekan wawancaraku dengan sang ibu tadi. Pamit pulang. Kulangkahkan kaki dengan ringan menuju motor kesayanganku berteduh.
Inilah pekerjaanku sekarang. Wartawan termuda sebuah media massa terbitan mingguan. Kugapai cita-citaku sejak kecil itu setelah aku berhasil menamatkan pendidikan S1. Aku sangat menikmati perjalanan ini. Melewati tantangan demi tantangan yang ada dihadapanku.
Dari sang istri pejabat, aku memaknai sebuah perjalanan cinta. Ternyata, kisah cintaku dulu tak lebih buruk dari kisah cinta sang ibu. Setelah suaminya diangkat menjadi wakil rakyat, ia mulai melirik wanita lain. Diam-diam ia menikahi siri, dan akhirnya sang istri baru mengetahui perselingkuhan itu setelah ’madu’-nya memiliki seorang anak dari suaminya. Bahkan, pada akhirnya, ia diceraikan begitu saja, karena ia bersikukuh tidak ingin dimadu. Sungguh aku malu jika mengingat cerita itu. Aku yang dulu pernah berfikir, jika saja bunuh diri diperbolehkan Tuhan, maka akan kubunuh diriku sendiri yang terlalu naif dalam mengenal cinta. Lalu, bagaimana dengan ibu yang diceraikan itu?.Apakah ia pernah berfikiran seperti aku?.
Ternyata, Long Distance Relationship, tak lebih buruk dari kawin-cerai para pejabat dan artis.
***
Setahun telah berlalu. Hingga saat ini, aku memilih sendiri tanpa kekasih. Aku belum siap membuka hati untuk cinta yang baru. Trauma?. Mungkin iya. Dan kurasa, jika suatu hari nanti aku menemukan cinta sejatiku, barulah cinta usang itu dapat kuhapus dengan mudah. Biarlah waktu yang akan menunjukkan kebahagiaanku nanti, batinku mantap.
”..Dan ketika cinta pergi meninggalkanmu tanpa sebuah alasan, jangan biarkan ia kembali dengan sebuah penjelasan..”
******
(Nurul Sasuke, Melukis Langit, 17 Agustus 2011)
Palembang, 29 Sept 1989
