Minggu, 20 November 2011

Deadline untuk kebahagiaanmu, Mama..

September 2007

Aku sudah lulus SMA. Sudah mulai memasuki babak baru dalam hidup. Babak masa remaja menjelang dewasa. Aku ingin kuliah, tapi tak berani mengungkapkannya kepada Papa dan Mama. Bukan. Bukan hanya tidak bisa mengungkapkan keinginan, tapi lebih kepada pertimbangan perasaan. Hasratku ingin kuliah diluar kota, dan mengambil jurusan Sastra Indonesia. Tapi...
“Nuy (panggilan sayang Mama padaku), Papamu kepingin kamu masuk fakultas hukum..”. Hanya kalimat itu yang sempat kucerna didalam otak, selebihnya aku memilih diam hingga pembicaraan ini selesai dan langsung mengurung diri dikamar. Papa ingin sekali mewujudkan mimpinya untuk kuliah di fakultas hukum, karena ia menginginkan ada penerus jika ia sudah tua nanti. Pensiunan Reserse Poltabes Palembang. Beliau juga sudah bilang sejak aku masih duduk dibangku SMP, bahwa anak-anak mereka harus bisa mengenyam pendidikan hingga sarjana. “Papa tidak mau kalian seperti Papa dan Mama, hanya bisa sampai kebangku SMA”, jujur Papa kala itu.
Aku mengerti. Aku menyadari keinginan orangtuaku. Dulu, orangtuaku tak punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi karena keterbatasan biaya dan ketidakmengertian kakek-nenek akan pentingnya pendidikan yang lebih dari Wajib Belajar 9 Tahun!. Aku juga memahami, orangtuaku hanya sanggup mengkuliahkanku dikota ini. Di sebuah perguruan tinggi swasta tak jauh dari rumahku. Tanpa aku mempunyai kesempatan untuk mencoba UMPTN. Ketiga adikku juga butuh biaya.. Aku mengerti. Sekali lagi, aku sangat mengerti Mama. Aku hanya tak mau jadi seperti Papa, menjadi aparat negara...
Kutumpahkan semua yang menumpuk didada ini pada sajadah yang terbentang di sepertiga malam...

Januari 2008

            Ma, aku lulus pelatihan disana. Aku dikasih modal untuk membuka counter handphone di mall..”, ucapku tatkala kaki sudah menginjak lantai rumah. Kuserbu Mama yang sedang duduk diruang tamu.
            “Syukurlah. Jangan disia-siakan kesempatan yang sudah dikasih orang. Bekerjalah baik-baik.”
            “Iya Ma..”
            Dan kesempatan ini hanya bertahan sekitar 5 bulan saja. Ini pengalaman kerjaku yang pertama. Aku belum terbiasa bekerja sama dengan berbagai karakter manusia. Jadi kuputuskan untuk mengundurkan diri. Dan berkonsentrasi untuk mencari pekerjaan lain.

Juni 2008

            “Nak..yakin milih kerja disana?”, tanya Mama, tatkala aku mengatakan padanya bahwa aku diterima bekerja disebuah warnet mungil tak jauh dari rumah, sebagai operator merangkap pembersih ruangan juga (nistaa...).
            “Insya Allah Ma..Aku cuma pengen bisa pegang uang sendiri, walaupun gak seberapa”, jawabku tegas, walau dalam hati sempat agak ‘down’. Betapa tidak, rumah aja jarang kubersihin, ehh sekarang dapet kerjaan ngebersihin warnet!What the...
            “Emang bisa bagi waktu?.Diwarnet gak ada waktu istirahat, Nak. Minggu masih kerja kan?. Kuliahmu lebih penting..”
            Aku merenung. Sibuk menghela nafas. Andai mama tahu, aku juga ragu, Ma, batinku. Tapi aku gak mau kalau hanya menadahkan tangan. Biaya kuliah mahal.
            Pembicaraan ini berlalu dengan sendirinya, seiring dengan kesibukanku yang tak pernah punya waktu libur.
            Mama..setiap hari Mama mengirimiku makan siang. Karena jarak rumah ke warnet hanya sekitar 10 meter, Mama tidak memperbolehkanku membeli nasi. “Tiap siang, Mama aja yang anterin makanan. Berhemat”, ucapnya kala itu.

Januari 2009

            “Nak, kalo udah gak sanggup, berhenti aja. Jangan dipaksain. Gaji kamu juga kecil, paling cuma buat jajan..”, kata Mama, saat suatu hari aku ambruk karena masuk angin dan kecapekan.
            Naluriku mulai terusik. Kenapa Mama gak pernah mendukung usahaku selama ini, pake nyinggung masalah gaji lagi,batinku. Yang penting kan aku mau kerja, gak cuma nadahin tangan ke beliau, gak juga ke Papa!. Keningku mengernyit, tanda amarahku mulai naik ke ubun-ubun.
            “Mama tuh kenapa sih?. Aku udah kerja mati-matian, sampe Minggu pun aku kerja, supaya aku bisa dapet uang tambahan untuk beli buku-buku kuliah. Kenapa Mama malah mengejek gajiku???”, ucapku lantang. Kamar selalu menjadi tempat pelampiasanku. Kubanting pintu dihadapannya.
            Apa Mama capek kalo harus mengantarkan makan siangku setiap hari?Iya Ma?

Maret 2009

            Diagnosa dokter, Maag kronis. Jam 3 malam aku diantar Papa ke UGD Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang. Karena makan tidak pernah teratur, kurang tidur, dan stres menjadi pemicunya. Dengan peringatan keras dari dokter untuk tidak makan makanan pedas dan mengurangi minum kopi, aku diizinkan pulang.
            “Udah Nuy, berhenti ajalah. Kamu itu perlu waktu libur, gak baik kalo kerja dipaksa-paksain”. Saat itu, maag masih terasa melilit perut, walau sudah tidak seberapa lagi.
            “Apa Mama sama Papa sanggup kalo aku berhenti kerja?. Papa tuh masih kerja serabutan, Ma. Aku tuh gak bisa kalo gak pegang uang sendiri. Kenapa sih Mama gak suka aku kerja?. Apa penghasilan Papa bisa menghidupi aku sama kuliahku?”, tantangku.
            Aku masih saja tak menyadari apa yang Mama maksud. Ia tak pernah tega melihatku bekerja tanpa hari libur, sambil tergopoh-gopoh kuliah sepulang kerja. Ah Mama..betapa dulu aku begitu berdosa dengan membentak-bentakmu kala aku merasa begitu letih.

Mei 2009

            Kecelakaan itu. Trauma itu. Membekas hingga detik ini. Kecelakaan bersama orang (yang tak perlu aku sebutkan ‘merk’-nya, karena itu ‘gak banget’) yang paling aku benci hingga saat ini. Kecelakaan yang merenggut tangan kananku, hingga tak bisa digunakan secara normal kembali. Ya, aku cacat. Kecelakaan itu merenggut sebagian besar tangan kanan dari siku hingga ke pergelangan tangan. Luka menganga, karena aku terseret sekitar 5 meter dari lokasi kejadian. Tangan refleks melindungi kepalaku yang sempat terbentur, sehingga aku harus merelakan tangan ini cacat. Jahitan sebanyak 8 jahitan luar dan dalam, telah menggoreskan bekas yang hingga saat ini masih terlihat jelas. Urat syaraf tanganku banyak yang putus, sehingga fungsinya tidak bisa maksimal seperti dulu. Aku tak bisa lagi mengangkat beban berat. Bahkan jika aku membonceng orang yang melampaui berat diatas motorku, maka sepulangnya tanganku akan kram. Dan harus diurut.
            Kulihat mata Mama memerah, tanda menyimpan tangis melihat keadaanku saat itu. Mama menemaniku selama proses penjahitan oleh tim dokter. Darah berceceran dimana-mana. Aku berteriak kesakitan memanggil Mama. Mama menjadi penenangku, sampai aku diperbolehkan pulang kerumah.
            2 bulan aku baru bisa pulih kembali, itupun luka masih belum sembuh. Mama merawatku, karena aku tidak bisa menggunakan tangan kananku sama sekali. Mandi, makan, selalu dibantu. Otomatis, aku berhenti dari pekerjaanku. Mungkin jika aku tidak mengalami kecelakaan itu, aku tidak akan pernah menuruti kehendak Mama untuk berhenti kerja. Kekuasaan Tuhan sungguh terasa saat itu. Aku sungguh menyesal tidak pernah menuruti kata-katamu, Mama...

September 2009

            29 September, ulangtahunku yang ke 20. Bahagiaku membahana. Apalagi, saat itu ada seseorang yang mulai mengisi hati ini. Ku peluk Mama dalam kebahagiaanku. Saat itu statusku sudah bukan pekerja lagi, hanya sebagai mahasiswi biasa. Sebelum tiupan lilin kuhembuskan, aku berdoa sungguh-sungguh. Aku pastikan, aku akan meraih cita-citaku menjadi seorang WARTAWAN. Agar Mama bangga padaku, batinku berdoa. Huuuufffsss..lilin kutiup.
            Aku makin bahagia, karena seseorang itu mengutarakan keinginannya untuk menjadi belahan jiwaku. Ia menerima keadaanku yang cacat. Ia menerimaku yang belum bekerja lagi. Aku bersemangat menyelesaikan kuliahku. Kuraih nilai-nilai yang sangat memuaskan, karena aku tahu, walau Papa dan Mama tak pernah memujiku, aku yakin mereka senang jika melihat kuliahku baik-baik saja.

Maret 2010

            Putus.
            Ia memutuskan hubungan karena ia merasa aku hanya menjadi beban baginya. Aku masih mahasiswi yang tak jelas masa depannya. Ia memilih perempuan lain yang sudah bekerja. Hidup dan hatiku kembali ke titik awal. Drop, dan kembali sakit-sakitan. Maag ku selalu kambuh. Aku tak punya gairah hidup.
            “Nuy, lupakan dia. Dia itu gak pantes buat kamu, Nak. Masih banyak lelaki baik didunia ini. Lulus kuliah, kamu harus bisa kerja yang lebih dari dia. Kamu gak boleh terpuruk cuma gara-gara laki-laki seperti itu. Buktikan kalo kamu gak pantas untuk disakiti”, tegas Mama. Mama yang menopangku. Mama menjadi motivatorku. Sempat beberapa kali aku menangis dihadapan Mama. Sungguh, aku sangat terpuruk oleh cinta yang teramat dalam itu.




Agustus 2010
           
            “Iya, begitulah Bapak. Saya harap kita bisa bekerja sama”, ucapku dengan suara lembut. Aku melangkah keluar ruangan General Manager salah satu Mall dikota Palembang itu.
            Divisi Iklan sebuah televisi lokal. Lumayan. Semester 7, mulai bekerja kembali. Harus bisa membagi waktu agar tidak mengurangi nilai-nilai bagusku nanti, batinku. Disini pula aku belajar tentang cara berhadapan dengan orang penting, cara berpenampilan, dan cara bergaul dengan orang banyak denga berbagai karakter.
            “Yang penting kamu betah kerja disana. Mama gak masalah. Asal makan kamu teratur. Kalo perlu pulang kerumah, gak usah makan diluar”, nasehat Mama. Ia sempat khawatir dengan pekerjaan disini, namun selalu kuyakinkan dengan sungguh-sungguh. “Ini akan menjadi batu loncatan, Ma. Aku akan meraih yang lebih dari ini. Setelah lulus kuliah nanti, aku akan mengejar cita-citaku”, janjiku pada beliau. “Cita-cita?”, tanya Mama. “Ya, Ma. Aku ingin menjadi wartawan. Jurnalis. Yang mencari berita kemana-mana. Yang kerja dilapangan. Bakal ketemu banyak orang, dan para pejabat tentunya..bla bla bla...”
            Mama diam.

Maret 2011

            Saat yang paling kutunggu-tunggu. Kelulusan. Wisuda. Yesss..aku berhasil, Ma, Pa!.
            Usai acara resmi pembagian ijazah dan pemindahan kuncir, kupeluk Mama. Tangis bahagiaku tak dapat kubendung. Lama kupeluk tubuhnya yang mulai menua. Ah, Mama..aku sangat menyayangimu...Anakmu lulus, walau belum berhasil mendapat julukan Qumlaud. Kusalami pula Papa, dan tak lupa kuucapkan terimakasih karena beliau sudah memberikanku kesempatan mengenyam pendidikan S1 ini. Pa, aku sudah bisa membuat senyum diwajahmu. Ini yang Papa inginkan, kan?. Anakmu sudah bergelar sarjana.

Mei 2011

            “Mama bukannya gak setuju. Tapi kamu kan penyakitan. Wartawan itu kan susah. Jam kerja juga gak pasti. Apa kamu bisa?”
            Suara Mama yang mempertanyakan hengkangnya aku dari televisi lokal itu dan beralih ke wartawan media massa, bagai petir menyambar tepat dijantung. Sakit, sekaligus merasa terhina. Apa, apa yang Mama pikirkan?. Penyakitan?. Oohh.. teganya Mama bilang seperti itu.
            “Ma, ini cita-citaku. Kok Mama gak suka kalo aku bisa dapet kerjaan yang lebih baik dari ini?. Mama selalu menganggapku tidak bisa apa-apa!!!”. Menyakitkan sekali rasanya ketika itu. Apalagi Papa menambah pedih rasa ini. “Papa kepingin kamu jadi wartawan media harian, bukan mingguan!”
            Tangisku benar-benar pecah ketika itu. Bukan, bukan karena intonasi bicara mereka. Mereka berbicara dengan lembut, tapi makna dibalik kata-kata itu yang justru sangat menyakitkan hatiku. Aku belum bisa membanggakan mereka.




Oktober 2011

            Ulangtahun Mama yang ke 49 tahun. Kuberikan kue ultah warna orange kesukaan Mama. Kucium pipinya. Kubisikkan dalam hati akan cintaku yang tak terkira padanya. “Gak usah beli kue kayak gini lagi. Hematlah. Ultah Mama gak perlu dirayain”, kata beliau sesudah acara potong kue bersama adik dan sepupuku, malam itu.
            “Kemaren pas aku ultah, Mama udah beliin aku kue, jadi sekarang gantian”, jawabku. Mama hanya tersenyum tipis.
            Mama sudah bisa menerima pilihan hidupku. Papa juga. Walaupun terkadang Papa khawatir karena aku sering pulang malam jika ada liputan dadakan, tapi aku bisa meyakinkan mereka tentang jalan hidupku. “Yang penting kamu nyaman, Nuy. Apapun pilihanmu, Mama percaya itu yang terbaik. Toh kamu udah bisa memilih yang menurutmu baik”, nasehat Mama, yang juga diaminkan oleh Papa. Aku sudah menepati deadline yang kubuat sendiri, Ma..Deadline untuk mengguratkan senyum dibibirmu, kebahagiaanmu..
            Tuhan, tolong dengar doa primer ku ini,  aku ingin Mama panjang umur (seperti juga doa semua anak didunia!), hingga bisa melihatku menikah dan melahirkan cucu-cucunya. Ma, tetaplah tersenyum, agar letih yang kurasa bisa terhapuskan. Tetaplah menjadi ibu yang kubanggakan...

November 2011

            Sepulang kondangan...
            “Nak, kapan kamu mo nyusul?. Masa Mama gendong cucu orang mulu?”
            Waduh.

***

Kamis, 03 November 2011

Ungu - Yang Pertama OST. Pengejar Angin

Aku di sini, aku tak sendiri,
bersama sahabat dan kawan sejati..
Aku di sini, aku tak sendiri,
tuk menggapai angan-angan yang ku cari..
Aku di sini dan ku tak sendiri..

Reff:

Dan berlari kencang, sekencang-kencangnya,
tuk merangkai mimpi, cinta dan harapan..
berlari kencang, sekencang-kencangnya,
kobarkan semangat tuk jadi yang pertama..
berlari kencang, sekencang-kencangnya..
tuk jadi sang juara...

of

masih di sini, aku tak sendiri,
bersama sahabat dan kawan sejati..
masih di sini, aku tak sendiri,
tuk menggapai angan-angan yang ku cari..
masih di sini dan ku tak sendiri...

repeat reff

Yang pertama, sang juara, yang pertama,
ku takkan berhenti, ku terus berlari,
ku berlari kencang, sekencang-kencangnya,
tuk merangkai mimpi, cinta dan harapan..
repeat reff [2x]
ku lari kencang, berlari kencang, ku lari kencang