”Saya sudah siap nikah, Sasuke. Tiga tahun bukan waktu yang sempit untuk saling mengenal. Tapi dikala saya sudah ingin sekali menikah, teramat terjal jurang yang menghadang. Lalu, apakah saya salah jika harus melewati jalan pintas, walau saya tau itu dosa?”
Orangtua selalu memberikan wejangan yang menurutku sudah kelebihan muatan (maap ya Ma, kali ini aku harus jujur!). Kalo aku pulang kerumah dengan diantar oleh seorang laki-laki yang kebetulan baru pertama kali ini mengantar, nah..setelah laki-laki tersebut pamit pulang, mulailah wejangan itu diputar. Aku bilang itu diputar, karena selalu diucapkan dengan intonasi dan lirik yang sama (sekali lagi maap ya Mam,hehehe..).
”Sasuke, kamu itu cewek (yang bilang cowok siapaa, Ma?), ibaratnya kamu itu barang pecah belah (cangkir donk..!). Kalo udah pecah, ancur, gak bisa dibalikin lagi ke awal sebelum pecah (kan ada lem aibon Ma, tempel lagi aja..). Kamu harus bisa jaga diri, Nak (tapi aku gak ikut karate, Ma). Jangan langsung percaya sama omongan lelaki. Kalo ada yang ngomong mau serius sama kamu, kasih tau sama Mama Papa, nanti tak langsung kawin aja (kawiinn??yang pake KUA itu??), biar gak jadi fitnah!. Nanti kalo kelamaan pacaran, takut kamu ngelakuin hal-hal yang gak diinginkan (kalo hal yang diinginkan gimana, Ma?).” Heheheee...
Dan biasanya wejangan itu akan berhenti setelah 30 menit atau bahkan lebih.
Yah, namanya juga orangtua. Mana ada yang mau anaknya mencoreng nama baik mereka, apalagi mempermalukan mereka dihadapan semua orang. Namun aku tetap bersyukur, mempunyai orangtua yang menerapkan sistem demokrasi didalam keluarga. Kami, anak-anaknya, boleh menentukan pilihan jodoh sendiri, asalkan bisa menjaga kepercayaan orangtua untuk menjaga diri masing-masing, jangan sampai melakukan hal-hal yang dilarang agama.
***
Sebut saja Ayu, gadis manis tinggi semampai. Aku menuliskan kisahnya setelah aku meminta izin dengan tulus. Bukan untuk menceritakan aibnya, tetapi justru aku ingin membagi pengalaman berharga bagi semua orang, agar tidak menuding gadis sebaik Ayu sebagai anak durhaka yang hanya bisa mempermalukan orangtua. Ia hanyalah korban dari sebuah keadaan yang iapun tidak menginginkannya. Tidak..tidak..Jangan berfikir bahwa aku membelanya. Aku tidak membela Ayu, juga tidak menyalahkan orangtuanya. Aku berdiri ditengah, sebagai penonton yang terus mengikuti alur kisah cinta Ayu hingga ia menikah.
***
Ayu, telah berpacaran dengan Khalik selama 3 tahun. 3 tahun bukan waktu yang pendek bukan?. Dan selama 3 tahun itu, ia dan sang kekasih menjalani hubungan ‘backstreet’, karena orangtua Ayu tidak menyetujui hubungan mereka. Betapa tidak, menurut pandangan orangtua Dian, Khalik tidak pantas mendampingi anak mereka. Khalik hanyalah seorang lelaki yang sudah berumur dan ‘hanya’ bekerja pada sebuah perusahaan swasta. Belum lagi latar belakang pendidikan yang hanya tamatan SMA. Ditambah keadaan ekonomi keluarga yang sangat sederhana. Sedangkan Ayu, sarjana tehnik yang berasal dari keluarga yang cukup berada, dengan latar belakang pendidikan keluarga yang kesemuanya sarjana. Betapa perbedaan itu begitu mencolok mata.
Pun begitu, Ayu tidak pernah sedikitpun gentar. Ia acuh saja dengan segala perbedaan yang menjadi jurang dalam hubungan mereka. “Saya mencintainya, tanpa keraguan sedikitpun. Pendidikan dan perbedaan kasta hanyalah perbedaan yang diciptakan manusia, sedangkan dimata Tuhan, semua sama, Sasuke.”itulah ungkapan cintanya terhadap laki-laki beruntung itu.
Selama 3 tahun pula ia tetap bertahan dengan hubungan tersebut. Waktu demi waktu mereka lewati dengan keyakinan akan masa depan. Selama itu pula, persiapan pernikahan mereka lakukan. Mulai dari menabung, mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan dan setelah pernikahan itu sendiri. Bahkan, mereka menyiapkan semua barang-barang dari yang terkecil, seperti sendok, panci, bedcover, bahkan tempat tidur mungil. Semua itu mereka lakukan tanpa sepengetahuan keluarga besar.
Pernah kutanyakan keseriusan Khalik langsung, dan dia dengan tegas menjawab,”Saya sangat mencintai Ayu. Saya bekerja keras, sampai harus kerja sambilan, agar saya bisa mencukupi biaya untuk menikah dengannya. Saya tidak mau mengambil anak orang seenaknya saja. Saya ingin Ayu senang, apapun permintaannya saya berusaha untuk mengabulkan!”. Aku tahu kata-katanya itu benar-benar ia realisasikan. Ia menyiapkan pernikahannya sendiri, bahkan permintaan mahar dari Ayu yang cukup besar, mampu ia beli dari hasil keringatnya sendiri.
***
Setelah mereka siap, mereka mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan niat suci menuju ke pelaminan. Tapi, diluar dugaan, hanya caci-maki yang Khalik dapatkan. Tak terhitung sekian kali ia bertandang kerumah Ayu untuk menunjukkan niat baiknya melamar sang pujaan, sekian kali pula kata-kata ejekan dan makian terlontar dari mulut ayah Dian. Mereka beranggapan, anak perempuan mereka satu-satunya itu, tak pantas mendapatkan laki-laki yang hanya seorang pegawai swasta dan hanya tamatan SMA. Tak sedikitpun sang ayah menunjukkan persetujuannya. Bahkan pernah suatu hari, ia terang-terangan menolak kedatangan Khalik dengan melempar barang keruang tamu. Hari berganti hari, minggu ke minggu, usaha itu berjalan tanpa hasil.
Hingga suatu hari, Ayu datang kepadaku, dan terlontarlah kalimat sedih, dengan linangan airmatanya yang tak kuasa dibendung lagi.
”Saya sudah siap nikah, Sasuke. Tiga tahun bukan waktu yang sempit untuk saling mengenal. Tapi dikala saya sudah ingin sekali menikah, teramat terjal jurang yang menghadang. Lalu, apakah saya salah jika harus melewati jalan pintas, walau saya tau itu dosa?”
Ya..tanpa bisa diulang kembali ke awal, suatu jalan pintas yang cukup beresiko mereka tempuh. Kala itu, Ayu sudah mengandung sekitar 2 bulan. Aku tak percaya ini, batinku menggema. Ingin rasanya aku menguap marah. Sesempit inikah pemikiran kalian, hingga menjadi seperti ini?. Inikah yang dinamakan cinta tak berlogika?. Cinta yang didasarkan nafsu semata. Hingga tak ada lagi iman yang tersisa?. Hingga beberapa waktu setelah itu, aku sibuk mengatur nafas yang memburu. Marah sekaligus sedih.
Namun, renungkanlah kawan. Kisah Ayu dan Khalik hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah pilu yang berujung dengan kesalahan yang dibuat oleh kedua belah pihak. Mereka hanyalah korban dari sebuah keadaan, yang merekapun tak ingin berada didalamnya. Mereka telah berusaha mencapai arah masa depan dengan melewati jalan lurus, namun apa daya, keadaan yang memaksa mereka untuk melewati jalan pintas. Mereka ingin menghindari keputusasaan, namun apadaya jika hanya jalan buntu lah yang kala itu ada dihadapan mereka.
Kuberikan motivasi terbaik, agar ia dan Khalik bisa mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semuanya kepada kedua orangtuanya. Ya..semuanya.. Termasuk jalan pintas yang telah mereka tempuh. Tanpa disangka-sangka, Tuhan memberikan pertolongan-Nya. Hanya dalam hitungan hari, jawaban atas keinginan mereka selama ini, dikabulkan.
Setelah menyadari kesalahan mereka, orangtua Ayu mulai luluh, hingga memberikan restu bagi keduanya. 3 bulan setelah itu, pernikahan agung yang mereka idam-idamkan pun terwujud. Mereka tak merepotkan kedua orangtua masing-masing dengan pernikahan itu, karena semua persiapan telah mereka siapkan dengan sangat matang!.
Dengan tangis haru, kupeluk tubuh Ayu setelah acara ijab qabul digelar. Kubisikkan kalimat cinta untuknya, sebagai orang yang menyayanginya, ”Semua masalah dalam hidup pasti ada jalannya. Jangan pernah menyesali kesalahan terdahulu. Waktu takkan bisa kau putar kembali, sayang..”.
Dan kami tersenyum dalam tangis seraya mempererat pelukan. Lama..
***
6 bulan kemudian, lahirlah bayi mungil yang sangat lucu. Hidungnya pesek,matanya sipit, persis kayak boboho versi cewek!. Mulai sekarang, ia panggil aku Bunda J
Selamat ya sayang, atas kelahiran anak pertamamu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar