Gelisah disaat berjauhan..
Apakah ia merasakan hal yang sama? Aku tak tahu. Dan aku tak mengerti.
Apa yang terjadi? Mengapa hati ini begitu gelisah, hingga malam-malamku terasa sangat sebentar terasa.
Ku coba bertahan dengan argumentasiku. Ku coba bertahan dengan semua fikiranku.
Tapi, lagi-lagi, aku kalah. Walaupun kekalahanku ini belum terlihat ke permukaan.
"...Ternyata, setelah sekian lama, baru sekarang aku bisa mengurai
pijar bintang..Miris? Yah, lebih baik terlambat daripada tidak sama
sekali, itu kata pepatah usang. Aku hanya manusia tak sempurna, yang
ingin mencari bintang yang sempurna, yang bisa membawaku ke langitnya.
Apa kabar bintangku? Maafkan, jika aku baru menemukan jurus jitu menyibak awan yang menutupimu..
Mungkin yang kau katakan padaku dulu di malam hujan menyingkirkanmu
secara paksa, benar adanya. Aku memang naif. Aku memang terlalu cepat
berpaling dari bintangku, dari pijarmu yang selalu menerangi kemanapun
aku pergi. Aku sadar, aku hanyalah seonggok hati yang rapuh, terduduk di
bawah dinginnya malam.
Akibatnya, aku tersesat, bintang. Saat itu, mungkin kau lelah
mencariku. Aku tak tahu dimana saat ini berada. Tak ada anak panah
penunjuk jalan, tak ada api unggun, rumah singgah, atau bahkan
kurcaci-kurcaci baik hati. Tak ada.
Aku menyesal. Maafkan aku. Aku yang terlalu menggebu-gebu,
meninggalkanmu, tanpa aku sadari bahwa pijarmu lah yang bisa memberikan
arah pasti kemana aku akan berjalan. Aku bingung. Rasa ini begitu dalam.
Dimana aku? Mengapa yang kurasakan hanya kekosongan hati, meski
perlahan pijarmu menerangi, disela awan-awan yang jahat itu.
Ambil aku bintang.. Bawa aku ke langitmu. Aku takut tersesat lebih
dalam. Dan mungkin akan mati rasa nantinya. Sebarkan pijarmu, bintangku.
Aku lelah mencari jalan keluar dari sini. Tuhan, pertemukan aku dengan
bintangku kembali..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar