Kamis, 22 Agustus 2013

Kamu, Dia, Mereka

Kamu..

Bintang itu letaknya dilangit. Tapi ada satu lagi yang letaknya di laut, yakni bintang laut. Kamu tau kenapa bintang hidup dilangit sama dilaut? Bukan..Bukan karena dia punya 2 kepribadian, tetapi karena mereka bisa hidup diatas awan dan dilautan, yang sama-sama luas. Gak ngerti? Yaaa..aku juga mikir-mikir sikk.. Hihihi..

Langit.. Ketika kita menengadah keatas, langit biru terhampar luas. Diramaikan oleh awan yang membentang sepanjang mata memandang. Berbagai jenis burung turut meramaikan langit biru tersebut..
Laut.. Keindahan bawah air yang tiada tara. Terumbu karang, binatang laut penghuni bawah laut yang bahkan makhluk daratan berlomba-lomba tuk menyelam, menghayati keindahan ciptaan Tuhan. Ombak, suara termerdu didunia pun ikut memperdengarkan kepada dunia, bahwa laut menjadi salah satu objek terindah yang seringkali dicari diseluruh dunia. Tentang pantai berpasir putih, tentang ombak yang saling mengejar, dan tentang jejak kaki yang menapak dari waktu-ke waktu, membuat jejak-jejak tersendiri, meski pada akhirnya riuhan air laut menghapusnya serta-merta.

Tau gak kenapa aku menuliskan tentang langit dan laut? Karena kamu lah langit sama laut jadi begitu berwarna dimataku.. Kamu, yang slalu ada dalam bayang mata ini.. Dan kamu, yang slalu mengisi gejolak hati, hingga tiada yang mampu menepis angan.Meski kamu takkan pernah tahu, setidaknya rasa ini Tuhan yang tau.. Andai Tuhan menjawab, bahwasannya rasa ini akan berlabuh kepada orang selain kamu nantinya, setidaknya aku bisa menghibur hati, bahwa langit dan laut takkan pernah bersatu :)

Dia..

Entah mengapa, tiba-tiba, ujung jari menari-nari diatas keyboard qwerty BB, suatu waktu. Dan sinyal menyampaikan pesan singkat itu kepadanya. Pada dia yang dahulu pernah mengisi relung hati terdalam. Dahulu, bertahun-tahun yang lalu. Sudah sangat lama, ketika kukenang masa-masa bersama yang masih seumur jagung. Entah mengapa, nomor handphone itu tak pernah terhapus, meski sudah berkali-kali aku berganti handphone dan merusaknya lagi dan lagi. Sinyal jua yang turut menyampaikan balasan dari kata maaf, waktu itu. Seketika aku terkesiap. Dia sangat dewasa. Ya, jauh lebih dewasa dari pada aku. Dengan kesahajaannya, ia memberi maaf setulus hati. Aku sangat berterimakasih. Sangat sangat bersyukur, satu hati yang dulu pernah kukecewakan, memberi maaf setulusnya.

Tapi, entah mengapa..meski hingga kini, aku dan dia sudah kembali seperti semula, bercengkrama, bercanda, mengobrol tentang apa saja hingga larut malam, ataupun saling memberikan semangat diwaktu kerja, aku merasa, dia sudah berubah. Ya, aku tak lagi mengenalnya..

Dia tetap pada kesederhanaannya, kedewasaannya, dan kematangan pribadinya. Tapi apa yaaa..aku tak melihat lagi rasa sayang yang selalu ia tunjukkan lewat matanya. Kesederhanaan yang dulu sangat mendominasi, sekarang berkurang hingga 50 %. Ia mulai menunjukkan semua yang ia punya, meski tak kasat mata. Sungguh, aku tak melihat dia dari kehidupannnya yang kini berhasil. Demi Allah, aku tak silau dengan semua yang kini kau dapatkan. Aku tak lagi menginginkan kemewahan belaka, karena yang inginkan adalah cinta sejati..

Pribadinya yang dulu bersahaja, memberikan ketenangan disaat aku butuh perlindungan, kini tak lagi ada. Kata-kata yang tercipta dari bibirnya kini, berkisah banyak tentang apa yang dilakoninya saja, tak lagi bisa memberikan ketenangan. Dia, orang lain kini...

Mereka..

Mereka tak bisa melihat apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka hanya melihat dari kacamata mereka sendiri, tanpa pernah berfikir bahwa setiap orang punya pandangan masing-masing. Aku lelah, Tuhan. Sungguh, mereka tak bisa memahami apa yang sedang terjadi. Hanya diri ini yang bisa menjelaskan, melepaskan semua beban diatas sajadah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar