Kamis, 28 Maret 2013

The Two Faces of Eliza Dewi



Ekspresi Penggalan Batin Sang Pelukis



Lukisan. Hampir semua kalangan, bahkan usia, menyukainya. Selain sebagai media penghibur, bagi sebagian orang, lukisan bisa berarti refleksi otak. Berbagai karya lukis hampir terpajang dengan apik pada dinding di setiap rumah. Namun, tak semua orang mengerti arti sebuah lukisan.  Saya mencoba mendalami makna dari beberapa lukisan yang di buat oleh Eliza Dewi, pelukis muda berusia 14 tahun asal Palembang.

            Terdapat berbagai jenis lukisan berdasarkan aliran, antara lain lukisan aliran romantisme, lukisan aliran realisme, lukisan aliran surrealisme, lukisan aliran ekspresionisme, dan lukisan aliran impresionisme.
            Nah, ketika saya menelusuri sang pelukis muda yang menggelar pamerannya tersebut, Eliza Dewi, sosoknya termasuk pelukis impresif dengan jenis lukisan beraliran impresionisme, yakni mengutamakan kesan selintas dari suatu obyek yang dilukiskan. Kesan itu didapat dari bantuan sinar matahari yang merefleksi ke mata mereka. Seolah ia menyelesaikan lukisan-lukisannya dengan tergesa-gesa.
            Kepada saya, ia mengungkapkan, seringnya ia melukis berdasarkan apa yang ada dalam pikirannya, kondisi yang sedang ia alami, dan kesehariannya dengan lingkungannya. “Inspirasi melukis bisa datang dari mana saja. Kadang saya mendengarkan musik terlebih dahulu, terkadang hanya spontanitas, hingga pernah menyelesaikan 2 buah lukisan dalam 1 hari. Semua judul lukisan juga saya buat dalam bahasa Inggris,’’ ujarnya.

The Two Faces Of Eliza

            Pameran tunggal yang digelar di Gedung Perjuangan Wanita pada tanggal 25-30 Maret lalu, bertemakan The Two Faces of Eliza Dewi. Maknanya, Eliza sudah berusia 14 tahun, masa peralihan dari jiwa anak-anak menjadi seorang remaja putri. Bertumbuh dalam keharmonisan hidup diapit oleh ayah, ibu,  dan adik semata wayangnya.
            Suasana pameran yang terbilang tenang, namun padat pengunjung. Sekitar 43 lukisan dipajang di sekat-sekat yang diterangi oleh lampu-lampu penerang diatasnya. Rata-rata lukisan yang dipajang banyak ragam ukurannya, diantaranya berukuran 60 x 80 cm, 80 x 60 cm, 60 x 90 cm, 70 x 70 cm, dan 70 x 50 cm. Warna-warna cat lukisan yang dipakai Eliza sangat beragam, bahkan warna-warna yang dipakainya cukup ekstrim, seolah ia sudah berusia jauh dari usianya sekarang.
            Dalam pameran tunggal ini, yang menjadi lukisan utama adalah Two Faces of Eliza, lukisan dengan 1 wajah yang memegang topeng bertangkai. Ia melukiskan dua sisi kehidupannya sendiri, sisi fisiknya yang mulai beranjak remaja, dan sisi khayalan seninya yang terkadang masih dipengaruhi khayalan khas anak-anak.
            Lukisan beraliran realisme yang Eliza buat, yakni berjudul Sweetpea, yang tak lain adalah nama anjing kesayangannya. Mata bulat anjing tersebut menjadi titik fokus lukisan yang mampu menghisap perhatian ratusan pengunjung yang hadir di pameran setiap harinya.

Lukisan Abstrak


           Khusus untuk lukisan abstrak, tak semua orang bisa menikmati. Selain karena ketidaktahuan tentang arti dari lukisan abstrak yang dibuat, banyak orang juga menginginkan lukisan yang indah yang mereka ketahui maknanya. Bahkan, menurut Eliza, sebagian penikmat lukisan hanya membeli lukisan yang ‘terjangkau’ maknanya, seperti lukisan bunga, pohon, dan unsur-unsur alamiah yang bersifat nyata.
           Saya tertarik dengan beberapa lukisan abstrak Eliza Dewi, salah satunya berjudul Endless. Digambarkannya dalam lukisan yang berukuran 100 x 90 cm dengan menggunakan cat acrylic ini, jalan lurus yang seolah tak berujung dengan ranting kosong di kanan kiri jalan, serta langit yang redup. Benar-benar mengekspresikan kesan dunia fana yang dijalani manusia.
            Lukisan berjudul Mad World, menggambarkan yang menggambarkan seseorang yang meratapi dunia yang sudah penuh dengan hiruk pikuk kemunafikan dan keserakahan dunia.
            Yang menarik, salah satu lukisan abstraknya berjudul Untitled, lukisan 2 orang wanita, namun kepala salah satu wanita berada dibelakang sosok wanita lain. Dengan polosnya, Eliza mengaku, ketika melukis lukisan ini, dia sedang terbawa emosi karena sang Mama memarahinya. “ Lukisan ini maknanya seorang wanita yang minderan, dan selalu membandingkan dirinya dengan sosok wanita lain yang lebih sempurna dimatanya,” ucapnya polos.
            Lukisan lain yang tak kalah bagus berjudul The Man Who Can’t Be Moved. Menggambarkan seorang laki-laki dalam keputusasaan. Meski terdapat sinar bulan dan lampu taman yang bermakna adanya harapan, namun tetap tidak membuatnya tergugah.
Meski harga yang ditawarkan cukup fantastis, berkisar antara Rp 2-3 juta, namun tak menyurutkan keinginan kolektor lukisan untuk memiliki salah satu dari lukisan-lukisan tersebut. Terbukti, baru beberapa menit pameran dibuka, sudah ada lukisan yang ‘menghipnotis’ pengunjung sehingga dibeli langsung tanpa menawar.

Aksi Magis yang Menghibur




Festival Kuda Lumping Kota Palembang

Lead - Mendengar kata kuda lumping,  mungkin semua orang sudah tahu. Namun tidak semua orang tahu bila aksinya yang menyeramkan, justru punyai nilai seni yang menghibur. Kuda lumping merupakan gabungan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, serta juga budaya. Soalnya, dalam tariannya menggambarkan sejarah bagaimana kegagahan para tentara kerajaan.  Lalu, bagaimana atraksi yang kerap membuat kuduk berdiri ini menjadi sebuah tontonan?
Baru-baru ini, tepatnya Minggu (10/3) lalu,  MONICA sangat tertarik dengan festival kuda lumping yang diadakan disalah satu daerah dikawasan KM 5 Palembang,. Ya, kesenian tradisional khas yang satu ini memang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat kota Palembang. Meski bukan berasal dari kota ini, namun antusiasme masyarakat tak pernah luntur. Terbukti, saat MONICA menyaksikan festifal tersebut, masyarakat tumpah ruah dilapangan, menyaksikan tarian khas yang dibawakan oleh sekitar 48 kelompok kuda lumping se-kota Palembang.  MONICA pun tertarik untuk mengkajinya secara detil.


Sejarah Kuda Lumping

Kuda lumping bisa juga disebut jaran kepang atau jathilan, yakni tarian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda.
Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. 
Konon, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.
Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain.
Dalam setiap pagelarannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri. Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus.


** Festival se-Kota Palembang

MONICA menyempatkan diri bercengkrama dengan Mujianto, tak lain adalah Ketua Persatuan Kuda Lumping Kota Palembang dibawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palembang. Terbersit kebanggaan luar biasa dengan masyarakat Palembang yang masih melestarikan salah satu kesenian tradisional Jawa ini.
Selain karena banyaknya muda-mudi dan dewasa yang tergabung dalam paguyuban kuda lumping, rasa bangga juga timbul karena festival kuda lumping juga diadakan rutin setiap tahun sejak 2009 lalu. Paguyuban yang ada antara lain Kesenian Jarangan Campursari yang berlokasi di Jl. Timor Gang Suama No.778, Paguyuban Seni Kuda Lumping Banyuamas-an krido budoyo, dan Kesenian Kuda Lumping Sekar Laras.
"Ini merupakan festival yang keempat kalinya. Festival pertama, kedua, dan ketiga kami laksanakan di Benteng Kuto Besak. Nah, yang keempat ini kami ingin mengubah suasana dengan menyelenggarakannya di perkampungan padat penduduk," ujar Mujianto.
Tak dipungkiri, lapangan sosial yang berlokasi di Jl Sosial Km 5 Palembang ini sangat strategis, dengan pemukiman padat penduduk, sehingga masyarakat sekitar berbondong-bondong ingin menyaksikan festival unik tersebut.
Diiringi alat musik gamelan dan gendang dari paguyuban sekarjawata, ke-48 kelompok peserta kuda lumping tampil menari bersama-sama. Festival ini sendiri memilih 3 kelompok terbaik yang berhak atas thropy bergilir (juara pertama) dan
dinilai oleh para juri berkompeten.
Disela-sela acara, MONICA mewawancarai salah seorang wanita penunggang kuda lumping, Murah Hati, yang berasal dari paguyuban kuda lumping sidomuncul. Ia mengaku, ketertarikan dengan kuda lumping memang karena keunikan dari tari tradisional tersebut. "Paguyuban ini terdiri dari 50 orang, namun yang tampil tiap kali festival hanya sekitar 15 orang. Saya sangat suka tampil dikeramaian seperti ini. Bahkan saya juga sering kesurupan," tuturnya polos.
Selain kuda lumping, ternyata festival ini juga menghadirkan 2 kelompok tari reog Ponorogo di Kota Palembang sebagai tamu undangan dan turut menampilkan kesenian tradisional reog ponorogo yang cukup memukau penonton.
Namun, tak perlu takut jika menonton festival ini. Takkan ada penari yang kesurupan ataupun hilang kendali. Mengapa? “Selain sajennya lengkap, antara lain ada bebek dan kembang tujuh rupa, kami dari pihak panitia juga sudah mengendalikan secara supranatural, sehingga festival bisa berjalan lancar,” papar Mujianto.


** Kostum Penari Kuda Lumping

Para penari kuda lumping ini umumnya memakai kostum dengan variasi warna, lengkap dengan kain dan selendang. Atasan kebanyakan memakai tangan panjang, sedangkan kepala dihiasi blangkon ataupun ikat kepala.
Kostum ini juga dilengkapi topeng atau cambuk. Dari segi make up, penari tergolong apik dengan dandanan yang menonjolkan rias mata. Menurut Ketua PEPADI Kota Palembang, H Suwandi WT SE, layaknya semua paguyuban kuda lumping sekota Palembang ini dibekali tataran, yakni pelatihan kesenian tradisional khusus untuk kuda lumping, mulai dari cara berbusana, cara memakai make up, serta cara menari yang baik dan benar.
“Kita mengharapkan kelestarian kuda lumping dari masa ke masa melalui festival ini. Nah, ada baiknya, pemerintah juga ikut membantu dengan terus menerus mensupport kegiatan seperti ini. Di Pulau Jawa, bahkan belum pernah ada festival rutin seperti ini,” ujar nya diplomatis. (nrl)