Festival Kuda Lumping Kota
Palembang
Lead - Mendengar kata kuda lumping, mungkin semua orang sudah tahu. Namun tidak
semua orang tahu bila aksinya yang menyeramkan, justru punyai nilai seni yang
menghibur. Kuda lumping merupakan gabungan atraksi kesurupan, kekebalan, dan
kekuatan magis, serta juga budaya. Soalnya, dalam tariannya menggambarkan
sejarah bagaimana kegagahan para tentara kerajaan. Lalu, bagaimana atraksi yang kerap membuat
kuduk berdiri ini menjadi sebuah tontonan?
Baru-baru ini,
tepatnya Minggu (10/3) lalu, MONICA
sangat tertarik dengan festival kuda lumping yang diadakan disalah satu daerah
dikawasan KM 5 Palembang,. Ya, kesenian tradisional khas yang satu ini memang
menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat kota Palembang. Meski bukan
berasal dari kota ini, namun antusiasme masyarakat tak pernah luntur. Terbukti,
saat MONICA menyaksikan festifal tersebut, masyarakat tumpah ruah dilapangan,
menyaksikan tarian khas yang dibawakan oleh sekitar 48 kelompok kuda lumping se-kota
Palembang. MONICA pun tertarik untuk
mengkajinya secara detil.
Sejarah Kuda Lumping
Kuda lumping
bisa juga disebut jaran kepang atau jathilan, yakni tarian tradisional Jawa
yang menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini
menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai
bentuk kuda.
Anyaman kuda ini
dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya
menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda
lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis,
seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran
Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog.
Konon, tari kuda
lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda
lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan
Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini
mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan
Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.
Terlepas dari
asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat
heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini
terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan
anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam
pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan
kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat
lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan
lain-lain.
Dalam setiap
pagelarannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali
tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri. Pada fragmen Buto Lawas,
biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang
penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari
mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat
mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus.
** Festival se-Kota Palembang
MONICA
menyempatkan diri bercengkrama dengan Mujianto, tak lain adalah Ketua Persatuan
Kuda Lumping Kota Palembang dibawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kota Palembang. Terbersit kebanggaan luar biasa dengan masyarakat Palembang
yang masih melestarikan salah satu kesenian tradisional Jawa ini.
Selain karena
banyaknya muda-mudi dan dewasa yang tergabung dalam paguyuban kuda lumping,
rasa bangga juga timbul karena festival kuda lumping juga diadakan rutin setiap
tahun sejak 2009 lalu. Paguyuban yang ada antara lain Kesenian Jarangan
Campursari yang berlokasi di Jl. Timor Gang Suama No.778, Paguyuban Seni Kuda
Lumping Banyuamas-an krido budoyo, dan Kesenian Kuda Lumping Sekar Laras.
"Ini
merupakan festival yang keempat kalinya. Festival pertama, kedua, dan ketiga
kami laksanakan di Benteng Kuto Besak. Nah, yang keempat ini kami ingin
mengubah suasana dengan menyelenggarakannya di perkampungan padat
penduduk," ujar Mujianto.
Tak dipungkiri,
lapangan sosial yang berlokasi di Jl Sosial Km 5 Palembang ini sangat
strategis, dengan pemukiman padat penduduk, sehingga masyarakat sekitar
berbondong-bondong ingin menyaksikan festival unik tersebut.
Diiringi alat
musik gamelan dan gendang dari paguyuban sekarjawata, ke-48 kelompok peserta
kuda lumping tampil menari bersama-sama. Festival ini sendiri memilih 3
kelompok terbaik yang berhak atas thropy bergilir (juara pertama) dan
dinilai oleh para juri berkompeten.
dinilai oleh para juri berkompeten.
Disela-sela
acara, MONICA mewawancarai salah seorang wanita penunggang kuda lumping, Murah
Hati, yang berasal dari paguyuban kuda lumping sidomuncul. Ia mengaku,
ketertarikan dengan kuda lumping memang karena keunikan dari tari tradisional
tersebut. "Paguyuban ini terdiri dari 50 orang, namun yang tampil tiap
kali festival hanya sekitar 15 orang. Saya sangat suka tampil dikeramaian
seperti ini. Bahkan saya juga sering kesurupan," tuturnya polos.
Selain kuda
lumping, ternyata festival ini juga menghadirkan 2 kelompok tari reog Ponorogo
di Kota Palembang sebagai tamu undangan dan turut menampilkan kesenian
tradisional reog ponorogo yang cukup memukau penonton.
Namun, tak perlu
takut jika menonton festival ini. Takkan ada penari yang kesurupan ataupun
hilang kendali. Mengapa? “Selain sajennya lengkap, antara lain ada bebek dan kembang
tujuh rupa, kami dari pihak panitia juga sudah mengendalikan secara
supranatural, sehingga festival bisa berjalan lancar,” papar Mujianto.
** Kostum Penari Kuda Lumping
Para penari kuda
lumping ini umumnya memakai kostum dengan variasi warna, lengkap dengan kain
dan selendang. Atasan kebanyakan memakai tangan panjang, sedangkan kepala
dihiasi blangkon ataupun ikat kepala.
Kostum ini juga
dilengkapi topeng atau cambuk. Dari segi make up, penari tergolong apik dengan
dandanan yang menonjolkan rias mata. Menurut Ketua PEPADI Kota Palembang, H
Suwandi WT SE, layaknya semua paguyuban kuda lumping sekota Palembang ini
dibekali tataran, yakni pelatihan kesenian tradisional khusus untuk kuda
lumping, mulai dari cara berbusana, cara memakai make up, serta cara menari
yang baik dan benar.
“Kita
mengharapkan kelestarian kuda lumping dari masa ke masa melalui festival ini.
Nah, ada baiknya, pemerintah juga ikut membantu dengan terus menerus mensupport
kegiatan seperti ini. Di Pulau Jawa, bahkan belum pernah ada festival rutin
seperti ini,” ujar nya diplomatis. (nrl)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar