Ekspresi
Penggalan Batin
Sang Pelukis
Lukisan.
Hampir semua kalangan, bahkan usia, menyukainya. Selain sebagai media
penghibur, bagi sebagian orang, lukisan bisa berarti refleksi otak. Berbagai
karya lukis hampir terpajang dengan apik pada dinding di setiap rumah. Namun,
tak semua orang mengerti arti sebuah lukisan. Saya mencoba mendalami makna dari beberapa
lukisan yang di buat oleh Eliza Dewi, pelukis muda berusia 14 tahun asal
Palembang.
Terdapat berbagai jenis lukisan berdasarkan aliran, antara
lain lukisan aliran romantisme, lukisan
aliran realisme, lukisan aliran surrealisme, lukisan aliran ekspresionisme, dan lukisan aliran
impresionisme.
Nah,
ketika saya menelusuri sang pelukis muda yang menggelar pamerannya tersebut,
Eliza Dewi, sosoknya termasuk pelukis impresif dengan jenis lukisan beraliran impresionisme, yakni mengutamakan kesan
selintas dari suatu obyek yang dilukiskan. Kesan itu didapat dari bantuan sinar
matahari yang merefleksi ke mata mereka. Seolah ia menyelesaikan
lukisan-lukisannya dengan tergesa-gesa.Kepada saya, ia mengungkapkan, seringnya ia melukis berdasarkan apa yang ada dalam pikirannya, kondisi yang sedang ia alami, dan kesehariannya dengan lingkungannya. “Inspirasi melukis bisa datang dari mana saja. Kadang saya mendengarkan musik terlebih dahulu, terkadang hanya spontanitas, hingga pernah menyelesaikan 2 buah lukisan dalam 1 hari. Semua judul lukisan juga saya buat dalam bahasa Inggris,’’ ujarnya.
The Two Faces Of Eliza
Pameran tunggal yang digelar di Gedung Perjuangan Wanita
pada tanggal 25-30 Maret lalu, bertemakan The Two Faces of Eliza Dewi.
Maknanya, Eliza sudah berusia 14 tahun, masa peralihan dari jiwa anak-anak
menjadi seorang remaja putri. Bertumbuh dalam keharmonisan hidup diapit oleh
ayah, ibu, dan adik semata wayangnya.
Suasana pameran yang terbilang tenang, namun padat
pengunjung. Sekitar 43 lukisan dipajang di sekat-sekat yang diterangi oleh
lampu-lampu penerang diatasnya. Rata-rata lukisan yang dipajang banyak ragam
ukurannya, diantaranya berukuran 60 x 80 cm, 80 x 60 cm, 60 x 90 cm, 70 x 70
cm, dan 70 x 50 cm. Warna-warna cat lukisan yang dipakai Eliza sangat beragam, bahkan
warna-warna yang dipakainya cukup ekstrim, seolah ia sudah berusia jauh dari
usianya sekarang.
Dalam pameran tunggal ini, yang menjadi lukisan utama
adalah Two Faces of Eliza, lukisan
dengan 1 wajah yang memegang topeng bertangkai. Ia melukiskan dua sisi kehidupannya
sendiri, sisi fisiknya yang mulai beranjak remaja, dan sisi khayalan seninya
yang terkadang masih dipengaruhi khayalan khas anak-anak.
Lukisan beraliran realisme yang Eliza buat, yakni
berjudul Sweetpea, yang tak lain
adalah nama anjing kesayangannya. Mata bulat anjing tersebut menjadi titik
fokus lukisan yang mampu menghisap perhatian ratusan pengunjung yang hadir di
pameran setiap harinya.
Khusus untuk lukisan abstrak, tak semua orang bisa
menikmati. Selain karena ketidaktahuan tentang arti dari lukisan abstrak yang
dibuat, banyak orang juga menginginkan lukisan yang indah yang mereka ketahui
maknanya. Bahkan, menurut Eliza, sebagian penikmat lukisan hanya membeli
lukisan yang ‘terjangkau’ maknanya, seperti lukisan bunga, pohon, dan
unsur-unsur alamiah yang bersifat nyata.
Saya tertarik dengan beberapa lukisan abstrak Eliza
Dewi, salah satunya berjudul Endless.
Digambarkannya dalam lukisan yang berukuran 100 x 90 cm dengan menggunakan cat
acrylic ini, jalan lurus yang seolah tak berujung dengan ranting kosong di
kanan kiri jalan, serta langit yang redup. Benar-benar mengekspresikan kesan
dunia fana yang dijalani manusia.
Lukisan berjudul Mad
World, menggambarkan yang menggambarkan seseorang yang meratapi dunia yang
sudah penuh dengan hiruk pikuk kemunafikan dan keserakahan dunia.
Yang menarik, salah satu lukisan abstraknya berjudul Untitled, lukisan 2 orang wanita, namun
kepala salah satu wanita berada dibelakang sosok wanita lain. Dengan polosnya,
Eliza mengaku, ketika melukis lukisan ini, dia sedang terbawa emosi karena sang
Mama memarahinya. “ Lukisan ini maknanya seorang wanita yang minderan, dan
selalu membandingkan dirinya dengan sosok wanita lain yang lebih sempurna
dimatanya,” ucapnya polos.
Lukisan lain yang tak kalah bagus berjudul The Man Who Can’t Be Moved. Menggambarkan
seorang laki-laki dalam keputusasaan. Meski terdapat sinar bulan dan lampu
taman yang bermakna adanya harapan, namun tetap tidak membuatnya tergugah.
Meski harga yang ditawarkan cukup fantastis,
berkisar antara Rp 2-3 juta, namun tak menyurutkan keinginan kolektor lukisan
untuk memiliki salah satu dari lukisan-lukisan tersebut. Terbukti, baru
beberapa menit pameran dibuka, sudah ada lukisan yang ‘menghipnotis’ pengunjung
sehingga dibeli langsung tanpa menawar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar