Kampung
Kapiten,
Cikal
Bakal Masyarakat
Tionghoa
di Palembang
Kapiten atau bisa disebut juga
Kapitan, merupakan salah satu asal usul terbentuknya Kampung Kapiten dikawasan
7 Ulu Kecamatan Seberang Ulu 1 Palembang. Kapitan adalah panggilan bagi Tjoa Ham Hin
yang merupakan pengawas pajak di zaman penjajahan Belanda. Kampung yang
terletak di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberan Ulu 1 ini, saat ini belum
tersentuh sepenuhnya oleh pemerintah. Bagaimana jejak Kapitan di tanah
Palembang yang merupakan pelopor Kirab Sriwijaya? MONICA menelusurinya untuk
pembaca setia.
Letak
Kampung Kapitan ada di tepi Ulu Sungai Musi. Jika ingin berkunjung kedaerah
ini, dari bawah Jembatan Ampera, Anda bisa naik angkutan umum jurusan
Ampera-Kertapati dan berhenti di Simpang Pasar Klinik. Dari sana, Anda bisa
berjalan hingga Simpang 3 dan menemukan papan tulisan Kampung Kapitan di tepi
kiri.
Dahulu,
kampung ini memiliki luas ± 20 hektar. Namun, saat ini hanya tinggal sekitar 1
hektar saja. Sejarah yang turun temurun di masyarakat, kampung ini merupakan
cikal bakal masyarakat Tionghoa di Kota Palembang. Di jaman kolonial Belanda,
para warga Tionghoa berperan sangat penting dalam memainkan roda perekonomian
Kota Palembang dari pasar 16 Ilir.
Secara
spesifik pembatas Kampung Kapitan terletak di bagian utara tepian Sungai Musi
hingga ke tepian Jalan K H A Azhary di bagian selatan. Bagian barat
berbatasan dengan Sungai Kelenteng (namun sayang saat ini sudah mati) dan
bagian timur berbatasan dengan Sungai Kedemangan. Dahulu, pada abad ke 15,
daerah ini dinamakan Tanggo Rajo, karena banyak raja-raja dari berbagai etnis datang
kedaerah ini untuk berdagang maupun menetap hingga anak cucu mereka.
Tjoa
Ham Hin dipercaya penguasa Belanda untuk mengawasi pajak, sekitar 400 tahun
yang lalu.Pada masa kejayaan Tjoa Ham Hin inilah daerah ini berubah nama
menjadi Kampung Kapitan, yang diambil dari nama panggilan beliau yang berjuluk
Kapiten atau Kapitan. Tjoa Ham Hin merupakan keturunan marga Tjoa yang
kesepuluh. Kini, penerus marga Tjoa yang masih hidup dan menempati rumah
Kapitan, Tjoa Kok Lim atau yang biasa disapa Babe Kohar, merupakan keturunan
yang ketiga belas.
Meski
saat ini sudah banyak rumah-rumah dan bangunan yang sudah mengalami renovasi,
namun masih ada beberapa rumah yang memiliki ciri khas Tionghoa, meski
bercampur dengan bangunan khas Belanda dan atap limas khas Palembang.
Wartawan
MONICA Nurul bersama fotografer Andi,
mendatangi rumah Kapitan yang masih tersisa hingga kini. MONICA bertemu dengan
Tjoa Tiong Gi atau Mulyadi, anak kesembilan dari Babe Kohar yang kini menetap
kembali di rumah Kapitan pada tahun 2008 setelah merantau sejak tahun 1979
lalu. Dari Mulyadi-lah, dikisahkan bagaimana pluralism yang ada di kampung Kapitan ini.
Rumah Kapitan ini berukuran asli 22 x 25 meter.
Keturunan Kapitan yang menjadi ahli waris rumah itu, membuat bangunan tambahan
di bagian belakangnya, sehingga ukuran panjangnya menjadi 50 meter. Rumah ini
khusus ditempati oleh marga Tjoa saja, sedangkan marga lain tinggal disekitar
rumah Kapitan ini.
Ruang utama rumah tersebut terdapat meja sembahyang dan
diletakkan beberapa pedupaan (tempat hio) serta patung para Toa Pe Kong.
Salah satunya adalah Toa Pe Kong Sie, yang merupakan leluhur dari keluarga Tjoa.
Leluhur Kapitan Tjoa, dari sumber semacam bukukedua milik keluarga mereka,
adalah Sie Ti. Konon Sie Tie datang ke Palembang pada masa peralihan dari
Kerajaan Sriwijaya ke Kesultanan Palembang Darussalam, yaitu sekitar abad XVI
hingga XVIII. Interior rumah sejak dulu tak pernah berubah. Kayu umlen, kayu
tembesu, dan jati menjadi ciri khas betapa rumah ini merupakan peninggalan yang
tak ternilai harganya.
Rumah Kapitan ini memiliki 2 bangunan besar yang saling
terhubung dengan disisi tengahnya. Berbentuk petak, dengan ruangan kosong dari
lantai atas hingga kelantai bawah. Rumah yang pertama kali dibangun berada
disisi kanan disebut rumah batu, yang merupakan rumah sembahyang bagi para
keturunan marga Tjoa. Wadah abu mendiang leluhur berukiran khas China,
diletakkan ditengah-tengah ruangan. Terdapat 4 kamar besar, dan 2 kamar kecil. Sedangkan
dirumah yang dibangun setelahnya, disebut rumah kayu, yang merupakan tempat
sembahyang bagi para etnis Tionghoa, khususnya keturunan Tjoa. Bangunan kedua
rumah ini sama persis, baik jumlah kamar maupun interior didalamnya.
Disinilah pusat peribadatan masyarakat Tionghoa pada
awalnya, sebelum dipusatkan di Pulau Kemaro. Pulau Kemaro sendiri merupakan
kisah dari kendi berisi emas yang dibuang oleh adik Tjoa Ham Hin, Tan Bun An,
yang menikah dengan Siti Fatimah. Setiap warga yang ingin merayakan Cap Go Meh
di Pulau Kemaro, harus datang ke rumah Kapitan terlebih dahulu untuk
sembahyang, baru kemudian menyebrangi sungai ke Pulau Kemaro. Barulah kini
dimasa modernisasi, kebiasaan tersebut perlahan memudar dengan sendirinya,
seiring dengan banyaknya masyarakat keturunan Tionghoa yang merantau pergi dari
kampung Kapitan ini.
Beralih
ke luar rumah Kapitan, Kampung Kapitan sendiri dahulu terdiri dari 15 kelompok
bangunan berupa rumah panggung. Dahulu, di tengah-tengah kampung ini,
sebelum dibangun taman seribu lilin pada 2007 lalu, diubah kembali desainnya
pada 2012 lalu, merupakan kebun yang ditanam berbagai macam tanaman seperti pisang,
jambu, dan sebagainya. Seiring bertambahnya jumlah penduduk di kampung ini,
kebun tersebut diubah menjadi lapangan bola yang diperuntukkan untuk umum.
Disekitar
kampung, di era sebelum reformasi, masih terdapat pabrik-pabrik seperti pabrik
garam, pabrik roti, pabrik kecap, dan pabrik cuka. Barulah kini seperti yang
kita lihat, dikanan kiri rumah Kapitan berubah menjadi bedeng-bedeng.
Sejak dulu, masyarakat Tionghoa kampung Kapitan sudah membaur dengan
pribumi. Dengan membaurnya warga etnis Tionghoa dengan warga pribumi Palembang,
banyak terjadi pertukaran budaya, dan tidak dipungkiri terjadi perkawinan
antara mereka. Hingga para keturunan Kapitan Tjoa Ham Hin pun menyatu
menjadi satu dengan rakyat biasa, seperti sekarang ini.
Keturunan Babe Kohar sendiri, kini banyak yang merantau ke
daerah lain dan meninggalkan kampung Kapitan. Bahkan, banyak yang berpindah
agama seperti Katolik, Protestan, Budha, dan Islam. Kini, kampung ini sudah
banyak tersentuh pemerintah, meski rumah Kapitan sendiri masih berdiri tanpa
renovasi berarti. Entah akan bertahan hingga berapa lama lagi. (**bersambung)