Senin, 25 Februari 2013

Menelusuri Jejak Kapiten Tjoa Ham Hin (Bagian 1)



Kampung Kapiten,
Cikal Bakal Masyarakat
Tionghoa di Palembang

            Kapiten atau bisa disebut juga Kapitan, merupakan salah satu asal usul terbentuknya Kampung Kapiten dikawasan 7 Ulu Kecamatan Seberang Ulu 1 Palembang.  Kapitan adalah panggilan bagi Tjoa Ham Hin yang merupakan pengawas pajak di zaman penjajahan Belanda. Kampung yang terletak di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberan Ulu 1 ini, saat ini belum tersentuh sepenuhnya oleh pemerintah. Bagaimana jejak Kapitan di tanah Palembang yang merupakan pelopor Kirab Sriwijaya? MONICA menelusurinya untuk pembaca setia.
            Letak Kampung Kapitan ada di tepi Ulu Sungai Musi. Jika ingin berkunjung kedaerah ini, dari bawah Jembatan Ampera, Anda bisa naik angkutan umum jurusan Ampera-Kertapati dan berhenti di Simpang Pasar Klinik. Dari sana, Anda bisa berjalan hingga Simpang 3 dan menemukan papan tulisan Kampung Kapitan di tepi kiri.
            Dahulu, kampung ini memiliki luas ± 20 hektar. Namun, saat ini hanya tinggal sekitar 1 hektar saja. Sejarah yang turun temurun di masyarakat, kampung ini merupakan cikal bakal masyarakat Tionghoa di Kota Palembang. Di jaman kolonial Belanda, para warga Tionghoa berperan sangat penting dalam memainkan roda perekonomian Kota Palembang dari pasar 16 Ilir.
            Secara spesifik pembatas Kampung Kapitan terletak di bagian utara tepian Sungai Musi hingga ke tepian Jalan K H A Azhary di bagian selatan.  Bagian barat berbatasan dengan Sungai Kelenteng (namun sayang saat ini sudah mati) dan bagian timur berbatasan dengan Sungai Kedemangan. Dahulu, pada abad ke 15, daerah ini dinamakan Tanggo Rajo, karena banyak raja-raja dari berbagai etnis datang kedaerah ini untuk berdagang maupun menetap hingga anak cucu mereka.
            Tjoa Ham Hin dipercaya penguasa Belanda untuk mengawasi pajak, sekitar 400 tahun yang lalu.Pada masa kejayaan Tjoa Ham Hin inilah daerah ini berubah nama menjadi Kampung Kapitan, yang diambil dari nama panggilan beliau yang berjuluk Kapiten atau Kapitan. Tjoa Ham Hin merupakan keturunan marga Tjoa yang kesepuluh. Kini, penerus marga Tjoa yang masih hidup dan menempati rumah Kapitan, Tjoa Kok Lim atau yang biasa disapa Babe Kohar, merupakan keturunan yang ketiga belas.
            Meski saat ini sudah banyak rumah-rumah dan bangunan yang sudah mengalami renovasi, namun masih ada beberapa rumah yang memiliki ciri khas Tionghoa, meski bercampur dengan bangunan khas Belanda dan atap limas khas Palembang.
            Wartawan MONICA Nurul bersama fotografer  Andi, mendatangi rumah Kapitan yang masih tersisa hingga kini. MONICA bertemu dengan Tjoa Tiong Gi atau Mulyadi, anak kesembilan dari Babe Kohar yang kini menetap kembali di rumah Kapitan pada tahun 2008 setelah merantau sejak tahun 1979 lalu. Dari Mulyadi-lah, dikisahkan bagaimana pluralism yang ada di kampung Kapitan ini.
                Rumah Kapitan ini berukuran asli 22 x 25 meter.  Keturunan Kapitan yang menjadi ahli waris rumah itu, membuat bangunan tambahan di bagian belakangnya, sehingga ukuran panjangnya menjadi 50 meter. Rumah ini khusus ditempati oleh marga Tjoa saja, sedangkan marga lain tinggal disekitar rumah Kapitan ini.
Ruang utama rumah tersebut terdapat meja sembahyang dan diletakkan beberapa pedupaan (tempat hio) serta patung para Toa Pe Kong.  Salah satunya adalah Toa Pe Kong Sie, yang merupakan leluhur dari keluarga Tjoa.  Leluhur Kapitan Tjoa, dari sumber semacam bukukedua milik keluarga mereka, adalah Sie Ti.  Konon Sie Tie datang ke Palembang pada masa peralihan dari Kerajaan Sriwijaya ke Kesultanan Palembang Darussalam, yaitu sekitar abad XVI hingga XVIII. Interior rumah sejak dulu tak pernah berubah. Kayu umlen, kayu tembesu, dan jati menjadi ciri khas betapa rumah ini merupakan peninggalan yang tak ternilai harganya.
Rumah Kapitan ini memiliki 2 bangunan besar yang saling terhubung dengan disisi tengahnya. Berbentuk petak, dengan ruangan kosong dari lantai atas hingga kelantai bawah. Rumah yang pertama kali dibangun berada disisi kanan disebut rumah batu, yang merupakan rumah sembahyang bagi para keturunan marga Tjoa. Wadah abu mendiang leluhur berukiran khas China, diletakkan ditengah-tengah ruangan. Terdapat 4 kamar besar, dan 2 kamar kecil. Sedangkan dirumah yang dibangun setelahnya, disebut rumah kayu, yang merupakan tempat sembahyang bagi para etnis Tionghoa, khususnya keturunan Tjoa. Bangunan kedua rumah ini sama persis, baik jumlah kamar maupun interior didalamnya.
Disinilah pusat peribadatan masyarakat Tionghoa pada awalnya, sebelum dipusatkan di Pulau Kemaro. Pulau Kemaro sendiri merupakan kisah dari kendi berisi emas yang dibuang oleh adik Tjoa Ham Hin, Tan Bun An, yang menikah dengan Siti Fatimah. Setiap warga yang ingin merayakan Cap Go Meh di Pulau Kemaro, harus datang ke rumah Kapitan terlebih dahulu untuk sembahyang, baru kemudian menyebrangi sungai ke Pulau Kemaro. Barulah kini dimasa modernisasi, kebiasaan tersebut perlahan memudar dengan sendirinya, seiring dengan banyaknya masyarakat keturunan Tionghoa yang merantau pergi dari kampung Kapitan ini.
            Beralih ke luar rumah Kapitan, Kampung Kapitan sendiri dahulu terdiri dari 15 kelompok bangunan berupa rumah panggung. Dahulu, di tengah-tengah kampung ini, sebelum dibangun taman seribu lilin pada 2007 lalu, diubah kembali desainnya pada 2012 lalu, merupakan kebun yang ditanam berbagai macam tanaman seperti pisang, jambu, dan sebagainya. Seiring bertambahnya jumlah penduduk di kampung ini, kebun tersebut diubah menjadi lapangan bola yang diperuntukkan untuk umum.
            Disekitar kampung, di era sebelum reformasi, masih terdapat pabrik-pabrik seperti pabrik garam, pabrik roti, pabrik kecap, dan pabrik cuka. Barulah kini seperti yang kita lihat, dikanan kiri rumah Kapitan berubah menjadi bedeng-bedeng.
                Sejak dulu, masyarakat Tionghoa kampung Kapitan sudah membaur dengan pribumi. Dengan membaurnya warga etnis Tionghoa dengan warga pribumi Palembang, banyak terjadi pertukaran budaya, dan tidak dipungkiri terjadi perkawinan antara mereka.  Hingga para keturunan Kapitan Tjoa Ham Hin pun menyatu menjadi satu dengan rakyat biasa, seperti sekarang ini.
Keturunan Babe Kohar sendiri, kini banyak yang merantau ke daerah lain dan meninggalkan kampung Kapitan. Bahkan, banyak yang berpindah agama seperti Katolik, Protestan, Budha, dan Islam. Kini, kampung ini sudah banyak tersentuh pemerintah, meski rumah Kapitan sendiri masih berdiri tanpa renovasi berarti. Entah akan bertahan hingga berapa lama lagi. (**bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar