Tuhan bilang TIDAK!
Ya, Tuhan bilang TIDAK!
Aku tahu, aku yang salah. Salah berdiri ditempat seperti ini. Salah, karena aku melawan takdir yang seharusnya. Dan salah, karena aku berharap dunia tahu yang sesungguhnya. Aku ingin semesta tahu, bahwa aku sedang jatuh secinta-cintanya.. Aku ingin semesta menjawab tanyaku seutuhnya..
Cinta memang perasaan paling fenomenal.. Rasa paling dahsyat se-semesta..
Hingga terkadang semesta ikut bergidik, ketika cinta telah datang dan mengatur hidup manusia..
Ahh..andaikan cinta ini tidak punah, pasti aku akan menjelma menjadi wanita paling beruntung di permukaan bumi.. Pasti akan kubelai dengan sepenuh jiwaku, hingga cinta itu takkan pernah berpaling ke lain dunia..
Sayang..Tuhan bilang TIDAK..
Kenapa?
Aku tak tahu mengapa.. Tuhan bilang, ketika Dia bilang TIDAK, pasti ada yang lebih baik dari ini..
Meski mataku terus menerus menolak takdir ini.. Meski hati terus menerus ingin mengajak perang dengan logikaku sendiri..
Takdir tetaplah takdir, yang selalu minta dimengerti..
Semesta, meski bergidik, namun bukan karena cinta itu hadir, namun kini berubah..
Semesta bergidik karena cinta kembali punah..
Aku memang jatuh secinta-cintanya, tetapi kemudian aku juga patah sepatah-patahnya..
Tuhan, bisakah Kau beri aku alasan atas ke-TIDAK-an itu?
Mengapa hatiku terus berkata YA ?
Mengapa jiwaku terus berkata TLAH KUTEMUKAN CINTA ?
Takdir memang selalu minta dimengerti..
Rabu, 17 April 2013
Jumat, 12 April 2013
Menggenggam Awan
Laut tetap saja menghipnotisku..
Ombak yang lepas begitu saja, membuat kapalku berbelok kesana-kemari, tanpa lelah..
Berkelana menembus lautan luas, membuatku sesekali mendongak keatas. Wah, awan menaungi kapal ini ternyata. Membuatku tak begitu merasakan panas yang menusuk hingga ke pori-pori tubuh.. Awan ini..sepertinya sering kulihat. Berbentuk malaikat kecil dengan cupid panah ditangannya. Mataku menyipit sesaat..
Ah, ada sayap besar didalam peti rahasiaku, ingatku tiba-tiba.
Cepat kuambil, dan kutempelkan ke punggung..
Melayang..
Terbang menembus hingar-bingar ombak yang seolah menjerit tatkala melihatku terbang..
Berputar-putar dilangit, ku cari awan berbentuk malaikat kecil dengan cupid panah tadi. Mana dia?
Kenapa menghilang?
Sekian waktu kuhabiskan hanya untuk mencarinya. Mengapa ia tadi terlihat olehku dari atas permukaan laut, tetapi saat aku sudah menyusulnya, ia pergi! Bah..
Berputar dari awan satu ke awan lain, tak jua kutemukan..
Aku mulai lelah..Duduk disalah satu awan berbentuk datar, dengan angin yang cukup deras mengibarkan rambut hitamku..Kulepaskan sayap besar dari punggungku..
Ahhh..ternyata ini hanya halusinasi ku saja..Ternyata tak ada awan berbentuk malaikat kecil dengan cupid panah ditangannya..Atau mungkin, ia ada namun sengaja membuatku gila dengan pergi menemuinya ke langit?
Kuhelakan nafas panjang, pertanda lelah. Kulirik kebawah. Laut. Kapalku sendiri diatasnya.. Mengapung kesana-kemari tanpa awak.. Ombak menyentuhnya dengan lembut..
Kupasang kembali sayap, kupasrahkan tubuhku kembali ke kapalku di laut itu. Terjun bebas dari langit, tak perduli angin seolah ingin menghantam tubuhku hingga hancur!
Memang semestinya, tak kutinggalkan kapalku, hanya demi mengejar awan berbentuk malaikat kecil dengan cupid panah ditangannya..Toh, awan akan menghilang dengan sendirinya ketika tiba waktunya bulan dan bintang menyapa malamku..
Laut..aku rindu..
Ombak yang lepas begitu saja, membuat kapalku berbelok kesana-kemari, tanpa lelah..
Berkelana menembus lautan luas, membuatku sesekali mendongak keatas. Wah, awan menaungi kapal ini ternyata. Membuatku tak begitu merasakan panas yang menusuk hingga ke pori-pori tubuh.. Awan ini..sepertinya sering kulihat. Berbentuk malaikat kecil dengan cupid panah ditangannya. Mataku menyipit sesaat..
Ah, ada sayap besar didalam peti rahasiaku, ingatku tiba-tiba.
Cepat kuambil, dan kutempelkan ke punggung..
Melayang..
Terbang menembus hingar-bingar ombak yang seolah menjerit tatkala melihatku terbang..
Berputar-putar dilangit, ku cari awan berbentuk malaikat kecil dengan cupid panah tadi. Mana dia?
Kenapa menghilang?
Sekian waktu kuhabiskan hanya untuk mencarinya. Mengapa ia tadi terlihat olehku dari atas permukaan laut, tetapi saat aku sudah menyusulnya, ia pergi! Bah..
Berputar dari awan satu ke awan lain, tak jua kutemukan..
Aku mulai lelah..Duduk disalah satu awan berbentuk datar, dengan angin yang cukup deras mengibarkan rambut hitamku..Kulepaskan sayap besar dari punggungku..
Ahhh..ternyata ini hanya halusinasi ku saja..Ternyata tak ada awan berbentuk malaikat kecil dengan cupid panah ditangannya..Atau mungkin, ia ada namun sengaja membuatku gila dengan pergi menemuinya ke langit?
Kuhelakan nafas panjang, pertanda lelah. Kulirik kebawah. Laut. Kapalku sendiri diatasnya.. Mengapung kesana-kemari tanpa awak.. Ombak menyentuhnya dengan lembut..
Kupasang kembali sayap, kupasrahkan tubuhku kembali ke kapalku di laut itu. Terjun bebas dari langit, tak perduli angin seolah ingin menghantam tubuhku hingga hancur!
Memang semestinya, tak kutinggalkan kapalku, hanya demi mengejar awan berbentuk malaikat kecil dengan cupid panah ditangannya..Toh, awan akan menghilang dengan sendirinya ketika tiba waktunya bulan dan bintang menyapa malamku..
Laut..aku rindu..
Kamis, 11 April 2013
Kepentok
Ketika cinta udah kepentok, mau bilang apa?
Mentok, bahkan tembok pun kalah mentok dibanding cinta yang kepentok. Bingung kan? Sama!
Saya suka laut. Untuk itulah, saya memiliki impian bisa mengarungi lautan suatu hari nanti. Mau tahu kenapa saya suka laut?
Laut gak punya batas. Batas, yang bisa bikin manusia hidup dalam blok-blok terpisah satu sama lain. Dan batasan ini hanya ada di daratan. Persetan dengan blok-blok yang ada diantara saya, dia, kalian, dan semua orang. Tak perduli apapun akibat dari blok-blok itu, saya tidak akan pernah mendukung bahkan men-Tuhankan sistem seperti itu.
Setiap manusia diciptakan sama. Mengapa harus ada perbedaan?
Kembali ke laut. Saya cinta laut. Suatu saat saya ingin punya lautan luas. 'Punya', bukan 'berada'.
Di laut gak ada tembok pembatas. Semuanya luas terbentang. Tak ada adegan kepentok tembok, pagar pembatas, atau bahkan gedung pencakar langit. Gak akan saya temui tower sinyal setinggi 1.523 meter, atau bahkan menara yang tiap tingkatnya dipenuhi kotoran kecoa dan cicak.
Kondisi laut gak bisa diduga. Sedetik saya bisa merasakan air laut ditangan, terasa dingin dan lembut, namun sedetik selanjutnya saya bisa tiba-tiba masuk kedalam kamar di kapal itu, karena ombak mulai menerjang. Takut.
Begitulah kondisi hidup kita. Gak akan ada yang bisa memprediksi masa depan. Sama hal nya gak ada orang yang bisa menjelaskan kehidupan setelah kematian.
Tapi saya suka kehidupan seperti ini. Disinilah terujinya mapan emosi, pemikiran, dan spiritual kita.
Inilah keajaiban lautan luas.
Laut, saya rindu. Rindu untuk menyentuh riak air yang tercipta. Rindu menenggelamkan diri didalamnya. Tenggelam ke dasar, tuk kemudian melihat indahnya terumbu karang dan beribu jenis spesies binatang laut. Saya gak takut tenggelam lebih lama. Toh, alat scuba diciptakan manusia untuk itu.
Saya ingin lama hidup di lautan. Tanpa batas. Tanpa tingkat. Tanpa sekat. Dan tanpa 'mentok'. Dan..saya pengen ketemu cinta yang seperti laut. Indah, lembut, namun kita takkan pernah tahu apa yang terjadi ditiap pergantian waktu. Saya bosan dengan cinta di daratan yang katanya baik, romantis, tapi nyatanya, hanya bisa melihat dari balik tembok yang ia sukai saja, dari tinggi nya menara yang ia naiki, dan dari lantai ke 120 gedung yang ia tempati. Tanpa pernah melihat lebih rendah.
Saya ingin menemukan cinta yang apa adanya seperti air laut itu. Asin, tapi tetap saja diselami jutaan orang. Karena mereka tahu, keindahan dasar laut yang asin itu.
Saya juga ingin seperti laut, yang tak pernah bertemu dengan tembok pembatas. Ah, jika ada orang yang bisa menghancurkan tembok sialan itu, pasti dialah orangnya, yang bernama J.O.D.O.H :)
Mentok, bahkan tembok pun kalah mentok dibanding cinta yang kepentok. Bingung kan? Sama!
Saya suka laut. Untuk itulah, saya memiliki impian bisa mengarungi lautan suatu hari nanti. Mau tahu kenapa saya suka laut?
Laut gak punya batas. Batas, yang bisa bikin manusia hidup dalam blok-blok terpisah satu sama lain. Dan batasan ini hanya ada di daratan. Persetan dengan blok-blok yang ada diantara saya, dia, kalian, dan semua orang. Tak perduli apapun akibat dari blok-blok itu, saya tidak akan pernah mendukung bahkan men-Tuhankan sistem seperti itu.
Setiap manusia diciptakan sama. Mengapa harus ada perbedaan?
Kembali ke laut. Saya cinta laut. Suatu saat saya ingin punya lautan luas. 'Punya', bukan 'berada'.
Di laut gak ada tembok pembatas. Semuanya luas terbentang. Tak ada adegan kepentok tembok, pagar pembatas, atau bahkan gedung pencakar langit. Gak akan saya temui tower sinyal setinggi 1.523 meter, atau bahkan menara yang tiap tingkatnya dipenuhi kotoran kecoa dan cicak.
Kondisi laut gak bisa diduga. Sedetik saya bisa merasakan air laut ditangan, terasa dingin dan lembut, namun sedetik selanjutnya saya bisa tiba-tiba masuk kedalam kamar di kapal itu, karena ombak mulai menerjang. Takut.
Begitulah kondisi hidup kita. Gak akan ada yang bisa memprediksi masa depan. Sama hal nya gak ada orang yang bisa menjelaskan kehidupan setelah kematian.
Tapi saya suka kehidupan seperti ini. Disinilah terujinya mapan emosi, pemikiran, dan spiritual kita.
Inilah keajaiban lautan luas.
Laut, saya rindu. Rindu untuk menyentuh riak air yang tercipta. Rindu menenggelamkan diri didalamnya. Tenggelam ke dasar, tuk kemudian melihat indahnya terumbu karang dan beribu jenis spesies binatang laut. Saya gak takut tenggelam lebih lama. Toh, alat scuba diciptakan manusia untuk itu.
Saya ingin lama hidup di lautan. Tanpa batas. Tanpa tingkat. Tanpa sekat. Dan tanpa 'mentok'. Dan..saya pengen ketemu cinta yang seperti laut. Indah, lembut, namun kita takkan pernah tahu apa yang terjadi ditiap pergantian waktu. Saya bosan dengan cinta di daratan yang katanya baik, romantis, tapi nyatanya, hanya bisa melihat dari balik tembok yang ia sukai saja, dari tinggi nya menara yang ia naiki, dan dari lantai ke 120 gedung yang ia tempati. Tanpa pernah melihat lebih rendah.
Saya ingin menemukan cinta yang apa adanya seperti air laut itu. Asin, tapi tetap saja diselami jutaan orang. Karena mereka tahu, keindahan dasar laut yang asin itu.
Saya juga ingin seperti laut, yang tak pernah bertemu dengan tembok pembatas. Ah, jika ada orang yang bisa menghancurkan tembok sialan itu, pasti dialah orangnya, yang bernama J.O.D.O.H :)
Jumat, 05 April 2013
Bodoh..
Kebodohan terbesar dalam hidupku lagi-lagi terulang..
Jatuh kedalam lumpur yang sama, berkali-kali. SAMA. Tak ada bedanya dengan yang sebelumnya.
Mengapa aku begitu bodoh? Keledai saja akan belajar dari jatuh-jatuh yang pernah ia alami..
Sedangkan aku?
Bagaimana bisa kulakukan kesalahan yang sama, berulang kali..Benar-benar tersesat dijalan yang kubuat sendiri..BAH!!!
Apa mungkin, tak ada kebaikan dalam diri? Apa mungkin tak kutemukan orang seperti dia?
Aku tak percaya ini..Aku tak percaya..
Sekilas saja, pertanyaan penting menghampiri..
Apa yang Tuhan inginkan dariku? Rahasia terselubung apakah yang ada dibalik jalan berlumpur ini?
Mengapa Tuhan memilihkan jalan ini untukku? Apa saja hikmah dari semua ini?
Tuhan, sudah cukup rasa lelah ini menggelayut..
Maafkan aku Tuhan, aku hanyalah manusia biasa, yang memiliki rasa kecewa jika melihat jalan yang akan dilaluinya berlubang...
Jatuh kedalam lumpur yang sama, berkali-kali. SAMA. Tak ada bedanya dengan yang sebelumnya.
Mengapa aku begitu bodoh? Keledai saja akan belajar dari jatuh-jatuh yang pernah ia alami..
Sedangkan aku?
Bagaimana bisa kulakukan kesalahan yang sama, berulang kali..Benar-benar tersesat dijalan yang kubuat sendiri..BAH!!!
Apa mungkin, tak ada kebaikan dalam diri? Apa mungkin tak kutemukan orang seperti dia?
Aku tak percaya ini..Aku tak percaya..
Sekilas saja, pertanyaan penting menghampiri..
Apa yang Tuhan inginkan dariku? Rahasia terselubung apakah yang ada dibalik jalan berlumpur ini?
Mengapa Tuhan memilihkan jalan ini untukku? Apa saja hikmah dari semua ini?
Tuhan, sudah cukup rasa lelah ini menggelayut..
Maafkan aku Tuhan, aku hanyalah manusia biasa, yang memiliki rasa kecewa jika melihat jalan yang akan dilaluinya berlubang...
Hatiku..Hatimu..
Ingin rasanya berlarian di pantai berpasir halus itu, menjatuhkan seluruh beban yang ada keatas pasir itu. Melepaskan semua yang terganjal di kalbu..
Aku sangat ingin hatiku bisa terbebas dari segala penyerang..Ya, penyerang hebat itu, yang menamakan dirinya cinta..
Ingin rasanya kakiku beranjak ke tengah laut..Berkejaran dengan ombak, meski ia memiliki sifat ganas..Tak perduli..Kurasakan aku sudah tak mampu perduli pada apapun lagi..
Aku sangat ingin jiwaku bisa menemui peraduannya..Betapa diatas sajadah keinginan ini tak pernah lupa untuk kuluapkan kepada Yang Maha Menggenggam Masa Depan..
Ingin rasanya aku menyeberangi lautan luas itu.. Menggenggam setiap bulir riak air yang terjamah oleh tangan dingin ini..Menelusup melalui celah-celah karang yang tergeletak didasar laut..
Namun, lagi-lagi, kutemukan bintang terang yang ternyata terus-menerus memperhatikan kekalahanku..Menyimak setiap arus deras yang menerpa tubuh layu ini, tetap menerjemahkan isi hatiku meski laut seolah tak ingin aku terapung lebih lama..Laut bahkan ingin lebih menenggelamkanku, ketika keputusasaan tak lagi bisa kutolak..
Bintang..aku tahu, kau sedih jika aku begini.. Tersudut di lautan tak berpenghuni, yang bermuara ke samudra tak bertepi..Aku mengerti, kau kecewa dengan segala kepasrahanku kepada kehidupan, hingga akhirnya aku terjun kedalam lautan, tanpa ada keinginan tuk kembali ke pelabuhan heningku..
Apa..sudah waktunya kutinggalkan karang dan pasir putih lembut ini? Apa memang duniaku adalah bintang-bintang terang di langit biru pekat itu? Aku tersesat..Tolong.. Bahkan angin pun seolah tak ingin menjadi penunjuk jalan, untukku..Untuk hatiku.. Menuju hatimu..
Aku sangat ingin hatiku bisa terbebas dari segala penyerang..Ya, penyerang hebat itu, yang menamakan dirinya cinta..
Ingin rasanya kakiku beranjak ke tengah laut..Berkejaran dengan ombak, meski ia memiliki sifat ganas..Tak perduli..Kurasakan aku sudah tak mampu perduli pada apapun lagi..
Aku sangat ingin jiwaku bisa menemui peraduannya..Betapa diatas sajadah keinginan ini tak pernah lupa untuk kuluapkan kepada Yang Maha Menggenggam Masa Depan..
Ingin rasanya aku menyeberangi lautan luas itu.. Menggenggam setiap bulir riak air yang terjamah oleh tangan dingin ini..Menelusup melalui celah-celah karang yang tergeletak didasar laut..
Namun, lagi-lagi, kutemukan bintang terang yang ternyata terus-menerus memperhatikan kekalahanku..Menyimak setiap arus deras yang menerpa tubuh layu ini, tetap menerjemahkan isi hatiku meski laut seolah tak ingin aku terapung lebih lama..Laut bahkan ingin lebih menenggelamkanku, ketika keputusasaan tak lagi bisa kutolak..
Bintang..aku tahu, kau sedih jika aku begini.. Tersudut di lautan tak berpenghuni, yang bermuara ke samudra tak bertepi..Aku mengerti, kau kecewa dengan segala kepasrahanku kepada kehidupan, hingga akhirnya aku terjun kedalam lautan, tanpa ada keinginan tuk kembali ke pelabuhan heningku..
Apa..sudah waktunya kutinggalkan karang dan pasir putih lembut ini? Apa memang duniaku adalah bintang-bintang terang di langit biru pekat itu? Aku tersesat..Tolong.. Bahkan angin pun seolah tak ingin menjadi penunjuk jalan, untukku..Untuk hatiku.. Menuju hatimu..
Langganan:
Komentar (Atom)