BAGIAN I
"Suatu saat, gue akan mengunjungi Taj Mahal," begitulah bisikan hati di malam itu. Ku ketik pada pencarian google, dan keluarlah berbagai foto Taj Mahal yang menawan itu. Ku print pada selembar kertas berukuran Kwarto. Dan kutempelkan pada sterofoam biru di dinding kamar. Sejenak, mataku tak lepas menatap gambar itu.
***
Gue emang memimpikan Taj Mahal. Tapi kalau untuk sejarah dibangunnya bangunan yang menggunakan setidaknya 28 jenis batu pertama dari seluruh dunia itu, aku kurang suka. Tepatnya, kurang menerima. Ya iyalah. Taj Mahal, kan dibangun oleh Raja Shah Jehan untuk istri ketiganya, Arjumand Banu Begum,atau yang dikenal dengan Mumtaz Mahal. Gue emang cinta Taj Mahal, tapi gak pake istri ketiga juga, ya kan?
Oke. Tinggalin dulu cerita tentang istri ketiga dan impian tentang Taj Mahal, karena sekarang ini gue lagi sibuk ngerjain sesuatu. Lagi depan kaca. Apa? Elo tanya ngapain? Belajar lah. Apa lo pikir kaca gak bs ngajarin kita? Bisa. Ngajarin kita buat belajar membentuk diri. Contohnya? Gue lagi belajar jadi MC.
***
BAGIAN II
Nama, Arra. Lengkapnya, Arrayu. Gue adalah sosok cewek yang book-freak. Gue bisa nangis, ketawa, bahkan diem kayak anak Autis kalo udah ketemu buku. Gue bahkan gak tau kalo lagi ada gempa dan tsunami menerjang, hanya gara-gara sibuk baca novel Harry Potter. Percaya? Harus!
Selain book-freak, gue juga gadget-freak. Semua social media, gue ada. Mau LINE, KAKAO TALK, WECHAT, WHATSAPP, sampe PATH juga punya, meski kalo abis kuota, gigit jari. Satu lagi, gue pecinta musik. Segala genre dilahap, asal bukan lagu dangdut!
Kamar gue yang berukuran 6 x 5 meter, penuh dengan wall stiker. Warna warni dunia, gue tumpahin dalam kamar. Satu sisi, dicat dengan cat hitam khusus, yang bisa digambarin pake kapur. Kalo lagi jutek, gue gambar Devil, lengkap dengan tanduk diatas kepala dan api berkobar di telinga. Kalo lagi sedih, gue gambar rintik hujan, lengkap dengan sosok cewek yang lagi duduk dibawahnya, persis sama dengan adegan di sinetron.
Sisi dinding lain, gue tempelin wall stiker bergambar laut. Ya, gue emang cinta mati sama pantai. Gue cinta mati sama ombak dan hembusan angin laut. Dan gue bermimpi, suatu saat, bisa sholat di pantai. Sisi dinding yang satunya, gue tempelin wall stiker sepasang manusia yang lagi duduk diatas bangku, dengan kanan kiri taman dan kupu-kupu terbang. Sugestinya, bisa ketemu jodoh yang bikin nyaman hidup, senyaman duduk dibangku taman. Jadilah kamar ini nyentrik sendiri, sama kayak tuannya.
Bicara soal meja, dikamar gue cuma ada satu meja, yang lacinya penuh dengan novel dan komik. Yang paling sering gue suka adalah, frame bertuliskan 'Future Husband'. Gue buat sendiri dari kardus dan stick bekas es krim. Fotonya? Raditya Dika yang pake peci dan lilitan sorban di leher. Terserah deh, lo mau ketawa kek, apa kek. Gue emang suka cowok lucu, tapi teteup beriman. Hehehe...
Tapi jangan ketawa kalo liat tempat tidur gue. Ya, ranjang kesayangan gue emang penuh dengan boneka beruang *kemudian hening*.
Dan gue, baru lulus dari Sma Ducati, singkatan dari dua kali tiga, alias Sma 6 disalah satu sudut kota di ibukota Provinsi Lampung,Bandarlampung. Berkat otak yang diberkahi dengan kecerdikan luar biasa, gue dapet beasiswa, kuliah di Universitas Udayana, Bali. Tapi...
"Kamu kan seumur-umur gak pernah pisah sama Mama. Kok sekarang jadi berani banget mau ke Bali sendirian. Emang gak takut, ntar hanyut di pantai Kuta?", suara Mama yang keluar, begitu gue nunjukin beasiswa itu.
"Lagian, masa gak bisa milih sih? Yang disini aja gak ada bedanya kan? Ntar ditaksir Reog, loh!", Papa menimpali ucapan Mama tadi.
Jadillah gue sesenggukan dikamar malam itu. Gambar Devil gede di dinding, lengkap dengan tanduk dan api, berhasil gue buat. Bedanya, apinya sekarang diatas kepala!
***
Butuh waktu buat ngebujuk Papa Mama. Secara, gue emang anak bungsu yang paling jarang pisah dari ketek mereka, maksudnya, dari hidup mereka. Tiap pergi sekolah, mobil beserta sopir yang tak lain adalah Papa, selalu nganterin sampe gerbang sekolah. Pulang sekolah, selalu dijemput Mama, karena pasti Mama harus mengecek butik Mama di mall. Dan gue selalu nunggu sampe Mama bilang,"Yuk, pulang!", jelang sore hari.
Gue punya dua orang kakak, Doni dan Andri. Kakak-kakak yang ganasnya bukan main kalo udah berurusan sama gue. Iya, mereka bahkan over-protectif dibanding Papa Mama. Sumpah!
Dan, seminggu sebelum waktunya gue berangkat, barulah izin dari mereka gue dapetin. Berbagai petuah mampir di telinga, dari A sampe Z, balik lagi ke C, lalu loncat ke M, untuk kemudian berakhir kembali ke Z. Selama 3 hari 3 malam, ransel dan koper gue mengalami bongkar pasang. Semua yang menurut mereka harus dibawa, langsung dimasukin paksa ke koper, tanpa perlu nanya kopernya, sanggup atau gak.
Dua kakak gue lebih parah. Si Ajie masukin jam beker, dan si Andri maksa gue buat bawa madu.
"Apa pentingnya, Kak? Udah penuh, nih!," kataku setengah menjerit.
"Anak kos itu identik dengan bangun siang. Lo harus bawa jam beker, biar
bisa bangun pagi. Kalo bangun siang, rejeki diseret kambing, tau?," kata Andri. Gue mendengus hebat.
Senada dengan Andri, Ajie juga ngasih gue nasehat yang menurutnya penting, meski menurut gue gak sama sekali.
"Madu, itu bagus banget buat badan, Dek. Minum kalo lagi lemes, mudah-mudahan sehat terus". Udah tau seumur-umur gak pernah minum madu, malah disuruh bawa!.
Dalam hidup, kita akan selalu menghadapi perpisahan. Bandar Udara Radin Inten II menjadi saksi hidup, bahwa perpisahan emang gak mengenakkan. Pelukan sama kak Andri dan Doni, mereka seolah gak mau ngelepasin gue. Papa cuma meluk sebentar, lalu ngelepasin duluan. Tapi aku tahu, beliau masih sangat berat melepasku.
Pelukan Mama terasa sangat hangat. Gue sampe sesak sesaat. Mama meluk gue sangat erat. Dari sekian banyak petuah, satu yang gue tanam dalam jiwa.
"Kalo kamu pergi sebagai emas, maka pulanglah sebagai emas juga. Mama gak bisa ada disisi kamu, yang ada disisi kamu setiap saat itu, Allah SWT. Jaga diri kamu, selayaknya kamu jaga kepercayaan Mama dan Papa".
And story goes on.. Bali, gue memenuhi panggilanmu...
***
BAB III
Universitas Udayana, Bali, September 2008
Kampus utama Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, terletak di kecamatan Jimbaran, kabupaten Badung, Bali. Disini merupakan pusat pariwisata Bali. Banyak sekali objek wisata yang ada disini, seperti GWK, Pura Uluwatu, Nusa Dua, Tanjung Benoa, Pantai Dreamland, dan masih banyak lagi.
Hari pertama menginjakkan kaki di kampus. Jam 8 pagi. Statusku mahasiswi Jurusan Manajemen Bisnis kini. Beruntung, rumah kos yang ku tempati hanya berjarak 200 meter dari sini. Ya, tepat dibelakang kampus ini, banyak kos- kosan disewakan. Teman lama yang membantuku agar bisa dengan cepat mengambil salah satu kamar kos, Mini namanya. Yah, seukuran lah sama badannya yang juga 'mini'. Saat gue menginjakkan kaki di kos ini, dia langsung memberikan wejangan dengan logat khas Bali-nya, "Ini kos putri. Gak boleh ngajak cowok kemari. Kamar mandinya didalam kamar, tapi airnya harus hemat, karena cuma keluar 2 hari sekali. Paling lambat pulang ke kos, jam 10 malam, lewat dari jam itu, pintu kos dikunci, jadi kamu gak akan bisa masuk lagi". Padahal semua wejangannya udah ada di papan yang ditempel diruang tamu kos. Semua.
Kamar kos ku sendiri terletak di tengah rumah, dan dikeliling dengan 3 kamar lainnya yang saling berdampingan. Tetangga kamar kosku, sudah kukenal sejak pertama kali masuk ke kos ini.
Dera, mahasiswi hukum, yang suka banget bikin pernak-pernik dari berbagai bahan dam alat. Mulai dari wadah alat tulis di meja yang terbuat dari kaleng susu, dibalut dengan kain bekas berwarna putih, dan dilukis dengan cat minyak, atau bahkan jam dinding yang terbuat dari kardus bekas dan dibuat berbentuk matahari. Ni orang memang unik. Beneran deh. Monic. Nama lengkapnya Monica Manik. Anak Sulawesi yang sangat cinta dengan pacarnya, Benu. Tapi gue kurang nyaman dengan sang pacar yang bahkan ngelarang Monic buat makan banyak.
"Ya kalo kamu gendutan, berarti harus beli baju baru, celana baru. Susah, kan? Jadi mending kamu diet, selain bisa menghemat duit," kata Benu, suatu kali. Gue mikir, gimana nanti kalo mereka udah nikah, emang bunting gak bikin badan gemuk? Ada-ada aja!.
Satu lagi temen kos ku, Zizi. Anak Bandung, yang rajin banget bilang,"Elo udah makan?", sambil mengunyah sesuatu. Bayangin aja badannya kayak gimana. Agak lemot, tapi rada baek.
Pagi ini, kampusku cukup cerah. Keluar kelas jam 10.30 pagi. Perut lapar, karena memang belum menyentuh apa-apa pagi ini. Bergegas aq mencari kantin. Hari pertama seperti ini, memang masih harus menghafal denah kampus seluas ini.
Baru dua teguk minuman dingin yang kuminum, seseorang duduk dimeja dihadapanku.
"Hei.. anak baru, ya?", tanyanya basa-basi.
"Iya".
"Baru keluar kelas?".
"Yup".
"Jurusan apa?".
"Manajemen bisnis".
"Namanya siapa?". Kali ini ia menjulurkan tangannya. Kuterima jabatannya. "Arra".
"Kenapa kuliah di Bali? Kan jauh dari daerah kamu?".
Sejenak, gue memicingkan mata.
"Daerah mana maksudnya?".
"Lampung-Bali kan jauh". Mata gue membelalak sesaat. Ini siapa?
"Kok elo tahu gue dari Lampung?".
Sebelum si cowok menjawab, tiba-tiba dering hp berbunyi. Dan tanpa ba-bi- apalagi bu, dia langsung berlalu begitu saja, sembari mengangkat hp uang gue taksir berusia ratusan juta tahun lalu. Jadul banget.
Gue habiskan minuman yang tadi tertunda, namun kemudian tiba-tiba teringat sesuatu. Itu cowok siapa namanya tadi? Kuliah jurusan mana? Kok dia tahu semuanya tentang gue, tapi gue bahkan gak tahu namanya, tanya gue dalem hati. Kejadian ini masih terngiang di otak gue, hingga akhirnya berangsur-angsur dilupain karena kesibukan kuliah dan tugas-tugas yang menumpuk.
***
BAGIAN IV
Satu minggu di Bali, gue udah 3 kali nangis sesenggukan dikamar. Pertama, nangis karena kangen sama suasana rumah. Kedua, nangis karena kemaren ditinggal sama anak-anak kosan karena mereka pada malem mingguan semua, sementara gue dikamar gak diajak siapa-siapa. Dan ketiga, karena tugas numpuk. Beneran deh, baru ngerasain jadi mahasiswi, rantau pula. Bener-bener kayak anak yang lahir dari batu, gak punya siapa-siapa.
"Elo cari pacar aja, biar gak kesepian, Ra," kata Zizi siang itu. Dikantin, gue, Zizi, dan Dera sedang menikmati menu andalan ala anak kosan, seporsi mie dengan telur ceplok. Monic lagi pergi sama pacar tercintanya.
"Elo sendiri, punya pacar?". Gue nanya basa-basi.
"Gak ada".
"Trus kenapa nyaranin gue cari pacar?".
"Yaaa..biar elo gak kesepian, Arra sayang... Elo harus beradaptasi lebih baik lagi. Kalo elo punya pacar orang Bali, kan bisa ngebantu elo beradaptasi lebih cepet".
"Emang kalian gak mau ngebantu gue untuk beradaptasi?".
Dan topik 'cari pacar' ini gak pernah lagi timbul dalam perbincangan-perbincangan kami selanjutnya.